by

Pemerintah Diminta Evaluasi Teknis Penyaluran Kuota Internet

Ambon, BKA- Kepala SD Kartika Ambon, B. Tuheay, meminta Pemerintah Pusat (Pempus) mengevaluasi teknis penyaluran kuota internet, sebelum melanjutkan bantuan tersebut di tahun 2021.

Hal itu disampaikannya, karena pada 2020 lalu, siswa maupun guru pada sekolah yang dimpimpinnya sama sekali tidak merasakan bantuan kuota internet tersebut.

“Tidak tahu kendalanya dimana. Sebab kalau masalahnya adalah nomor tidak aktif, tidak mungkin semua siswa dan guru yang kita daftar punya nomor tidak aktif. Itu artinya, pasti ada siswa atau guru yang terima bantuan, walaupun itu hanya 1 atau 2 orang. Ini sama sekali tidak ada yang terima bantuan. Karena itu, kalau tahun 2021 ini mau dilanjutkan bantuan itu, mohon agar pemerintah evaluasi teknis penyalurannya. Jangan sampai, kita tidak kebagian bantuan di tahun ini lagi,” pinta Tuheay, Minggu (3/1).

Diakuinya, pada proses pengiriman data siswa di tahun lalu, memang pihaknya sempat terkendala dengan nomor Hp siswa. Namun hal itu sudah diatasi dengan menggunakan nomor Hp milik orangtua. Sehingga tidak ada lagi persoalan terkait dengan data penerima bantuan, baik siswa maupun guru.

“Bayangkan saja, dari Bulan September hingga Desember, tidak ada satu pun yang terima bantuan itu. Padahal di sekolah lain, hampir semua terima. Jadi kalau bisa, pada tahun ini, prosesnya diperbaiki, supaya kita juga kebagian lagi. Kasihan anak-anak di SD Kartika ini, hampir semua punya orangtua tidak mampu. Jadi sangat butuhkan bantuan seperti ini, untuk membantu mereka ikuti belajar dari rumah,” ucapnya.

Bersyukur, ungkap Tuheay, ada dana BOS yang bisa digunakan untuk membantu membeli pulsa bagi siswa dan guru selama proses belajar jarak jauh. Sehingga meskipun tidak maksimal, namun proses belajar mengajar di sekolah tersebut tetap dilakukan.

“Karena tidak ada yang terima bantuan. Pada akhirnya, sebagian dana BOS dipakai untuk beli pulsa bagi siswa dan guru. Tapi kebanyakan dikeluarkan untuk guru, karena tidak semua siswa belajar daring. Nomor Hp yang diberikan oleh orangtua itu kebanyakan tidak jelas, jadi kami juga sulit. Tapi ini kondisi keluarga, jadi kita maklumi itu. Sebab hampir semua siswa berasal keluarga tidak mampu. Jadi kami juga tidak bisa memaksa mereka sesuai yang kita harapkan. Pokoknya, apapun keterbatasan dalam PJJ ini, kita jalani saja. Yang penting anak-anak belajar,” pungkas Tuheay. (LAM)

Comment