by

Pemkot Didesak Desain Belajar Tatap Muka

Ambon, BKA- Nasib anak didik pasca pandemi Covid-19, ibarat buah Simalakama. Diharuskan belajar daring (online), tapi kualitas belajar menurun. Sebaliknya, ingin dipaksa belajar tatap muka, takut tertular virus tersebut.

Kondisi pendidikan anak, tidak bisa dibiarkan begini. Harus ada perbaikan. Belajar tatap muka harus dilakukan, untuk meningkatkan kembali kualitas belajar anak. Namun hal itu harus didesain, tanpa mengabaikan protokol kesehatan.

Anggota DPRD Kota Ambon dari Fraksi Nasdem, Morist Tamaela, mengaku, DPRD sebagai representasi masyarakat sementara berupaya bersama Pemerintah Kota Ambon untuk bisa menggiring kondisi Kota Ambon yang masih berada pada zona orange (sedang) penyebaran Covid-19, agar masuk ke zona hijau maupun era new normal.

Karena dengan situasi yang ada saat ini membuat anak-anak masih diharuskan belajar Daring dari rumah, tanpa tatap muka. Dan ini menjadi keluhan orang tua, karena kualitas belajar anak justru menurun.

Maka itu, Pemerintah Kota Ambon harus mendesain program belajar tatap muka, dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

“Banyak keluhan dari masyarakat, dan terus berpikir bagaimana agar anak-anak mereka dapat belajar tatap muka. Dan para guru juga bisa melihat dengan memberikan solusi. Maka saya berpikir, Pemerintah Kota Ambon bersama stakeholder lainnya harus berpikir untuk mendesain rencana belajar tatap muka. Dengan mendesainnya seperti apa, tetapi tetap mengedepankan protokol kesehatan,” ungkap Mourist, kepada wartawan di gedung DPRD Belakang Soya, Kamis (19/11).

Ketua DPD Nasdem Kota Ambon ini menilai, jika anak didik tetap dibiarkan dengan kondisi belajar saat ini, maka kualitas belajar mereka akan sangat menurun. Sehingga harus segera mendesain rencana belajar tatap muka bagi mereka. Apakah nantinya jam belajar yang dibatasi, ataukah jumlah siswa yang dikurangi atau sebagainya. Hal tersebut yang dinilai perlu dipikirkan Pemerintah kota saat ini.

“Jadi disamping mendesain belajar tatap muka seperti apa, tapi protokol kesehatan tetap menjadi kewajiban. Kemudian soal durasi, pembagian jumlah siswa dan kelas. Juga ada pesan dari orangtua untuk memprediksi anak mereka dari rumah ke sekolah, sebaliknya dengan kondisi sehat. Itulah yang harus dipirkirkan pemerintah kota saat ini, untuk bagaimana merancang belajar tatap muka,” terang dia.

Dikatakan, dengan kondisi belajar Daring saat ini, membuat kreativitas para guru untuk berinovasi dengan ilmu pendidikan yang dimiliki, akan terlambat. Karena tidak dapat diekspos secara maksimal melalui belajar Daring.

“Bukan saja pemerintah, tapi semua pihak harus mendukung. Tapi harus ada desain rencana dari pemerintah melalui dinas terkait dengan kajian-kajian akademisnya, epedimologi, fisosofi dan sebagainya. Misalnya mengambil referensi dari daerah lain yang sudah belajar tatap muka, agar bisa diterapkan di Kota Ambon,” saran Mourist.

Ia menambahkan, hal ini akan disampaikan ke teman-teman fraksi lainnya, untuk dibahas secara internal komisi. Sehingga bisa mengundang dinas terkait untuk mendorong hal ini.

“Kita akan tetap mendorong agar ada rencana desain belajar tatap muka. Nanti akan disampaikan lewat teman-teman komisi, agar sampaikan hal ini ke dinas terkait. Minimal harus ada desainnya,” tutup dia. (UPE)

Comment