by

Pemkot Merasa Tertantang Tangani Corona

Ambon, BKA- Walikota Ambon, Richard Louhenapessy mengaku, adanya tantangan yang dihadapi Pemerintah Kota Ambon dalam penanganan covid 19. Mulai dari keterbatasan fasilitas kesehatan (Faskes) untuk merawat pasien Covid-19 hingga kepercayaan masyarakat terhadap adanya Covid-19.

Hal ini Ia paparkan saat menghadiri dialog yang berlangsung di Media Center Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Sabtu (25/7).

Untuk tantangan keterbatasan Faskes, akuinya, Pemerintah Kota segera memutuskan untuk menggunakan gedung pendidikan dan pelatihan yang ada serta menyewa hotel berbintang tiga sebagai tempat perawatan pasien Covid-19.

“Tidak ada rumah sakit di daerah, adanya di provinsi dan fasilitas kesehatan juga terbatas. Untuk itu kami menggunakan Gedung Pendidikan dan Pelatihan Pemerintah setempat dan menyewa hotel bintang tiga sebagai tempat perawatan pasien Covid-19,” tutur Louhenapessy.

Sedangkan tantangan terkait kepercayaan masyarakat terhadap adanya covid 19, lanjut dia, pemerintah daerah bersama aparat setempat menangani dengan konsisten dalam keterbukaan informasi. Serta melakukan sosialisasi sehingga kepercayaan masyarakat dapat terus ditumbuhkan kepada pemerintah daerah.

“Langkah awal kita sudah dihadapkan resistensi luar biasa. Banyak masyarakat menolak PSBB, melakukan aksi demo dan menyatakan covid 19 rekayasa. Namun kami konsisten untuk terbuka tentang data dan langkah penanganan pemerintah daerah, serta melakukan pendekatan dengan sosialisasi,” ungkapnya.

Walikota dua periode ini menilai, Ambon yang menjadi Kota Transit untuk seluruh kabupaten/kota di Maluku, menjadi sangat rentan terhadap penularan Covid-19.

“Ambon merupakan kota Transit untuk seluruh kabupaten kota di Maluku. Sehingga hal ini membuat Ambon menjadi sangat riskan terhadap potensi penularan Covid-19,” tambahnya.

Menurut dia, Pemerintah Kota beserta seluruh aparat dengan cepat mengambil langkah preventif maupun represif dan menyatakan status tersebut dalam Kejadian Luar Biasa (KLB). Penanganan dimulai dari mencari pakar epidemiologi di Kota Ambon untuk dapat menganalisa perkembangan dan skenario puncak penularan Covid-19.

Setelah mengetahui kajian yang telah dilakukan, lanjut Louhenapessy, pemerintah dan aparat daerah dapat mengambil langkah mitigasi sesuai dengan kajian yang telah dibuat.

“Jadi kami mengambil langkah preventif maupun represif berdasarkan kajian pada data yang tersedia. Jika tidak, penularan Covid-19 akan sulit untuk dikendalikan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemerintah juga melakukan pendekatan pentaheliks menjadi salah satu langkah yang efektif dalam proses penanganan Covid-19.

“Sistem pendekatan pentaheliks sangat efektif dan positif dalam menekan penularan Covid-19. Kami selalu memberikan peran besar kepada pemerintah setempat, akademisi, masyarakat, media massa dan dunia usaha untuk bersama berkolaborasi dalam penanganan Covid-19,” tutup dia. (DHT).

Comment