by

Penambang Asal Bantaeng Wafat di Gunung Botak

beritakotaambon.com – Seorang penambang asal Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, H. Samo meninggal dunia di Kawasan tambang emas ilegal gunung botak, Desa Persiapan Wansait, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, sekitar pukul 12.00 WIT, Senin (23/8).

Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) yang berusia 69 tahun ini, meninggal dunia tepatnya di Gunung Batu, Desa Persiapan Wansait. Korban berasal dari Desa Bonto Atu, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Banteng.

Kepada wartawan, Selasa (24/8), Paur Humas Polres Pulau Buru, Aipda MYS Djamaluddin mengungkapkan, Samo bukan penambang liar yang biasa melakukan aktifitas secara diam-diam di lokasi gunung botak ataupun lokasi yang di anggap wilayah pertambangan.

“Telah meninggal dunia saudara H. Samo yang saat ini berkediaman di Desa Wansait, Kecamatan Waelata. Tepatnya di Gunung Batu, akibat sakit yang diderita sudah lama,” terang Djamaluddin.

Dijelaskan, kronologis kejadian menurut keterangan saksi yakni Fajrin Nurul Hidayat yang merupakan cucu dari korban menjelaskan, sekitar pukul 12.00 WIT korban berpamitan kepada Fajrin bahwa akan turun gunung untuk berobat, karena merasa badannya sedang sakit dan sudah lama.

Baca juga: Bupati Buru Launching One Stop Service, Cegah Kejahatan Perempuan dan Anak

“Tidak lama kemudian korban (Samo) berjalan dari Gunung Batu pulang ke rumah. Namun, saat perjalanan Fajrin mendengar bahwa korban tidak sadarkan diri (meninggal) dan dia dibawa ke atas gunung. Fajrin menuju ke atas gunung untuk memastikan bahwa benar korban itu kakeknya. Setiba di gunung, bahwa benar yang meninggal itu adalah kakeknya,” sebutnya.

Sementara saksi bernama Umang, pria asal Desa Kerasing, Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba yang kini berdomisili di Desa Persiapan Wansait mengaku, dirinya melihat korban tergelatak di lereng gunung dalam kondisi terbaring dan muntah darah.

“Pada saat dilihat bahwa korban telah meninggal dunia, yang kemudian Umang meminta bantuan kepada orang disekitar untuk mengangkat korban ke atas gunung. Setibanya di gunung, Umang mengajak beberapa masyarakat yang berada disekitarnya untuk bersama sama mengevakuasi korban ke masjid Desa Persiapan Wansait,” terang Djamaluddin.

Ia melanjutkan, setelah pukul 13.40 WIT korban tiba di Masjid Desa Persiapan Wansait, dan dilakukan koordinasi dengan keluarga korban yang berada di Desa Bonto Atu, Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantang, bahwa korban akan dimakamkan di rumah kerabat Desa Persiapan Wansait.

Dikatakan, setelah itu Kapolsek Waeapo, Ipda Zainal bersama personil Polsek Waeapo tiba di masjid Desa Persiapan Wansait dan melakukan koordinasi dengan pihak keluarga korban, untuk dilakukan visum. Dan kemarin, korban telah dilakukan pemeriksaan luar oleh petugas medis Puskesmas Waekasar, adapun hasil pemeriksaan luar oleh medis yang bertugas.

Baca juga:
Pemdes Grandeng Lakukan Penyemprotan Disinfektan

“Tidak ada tanda-tanda kekerasan yang ditemukan pada tubuh korban, dan diperkirakan korban sudah meninggal 6 (enam) jam setelah tiba di Puskesmas Waekasar dan dilakukan penanganan medis. Dan ada keluar darah dari mulut, hidung, dada dalam normal. Ada lebam di punggung sampai pinggang belakang akibat terjatuh,” pungkasnya. (MSR)

Comment