by

Pengacara Lapor Jaksa ke Kejagung

Ambon, BKA- Adolof Gerrit Suryaman yang bertindak sebagai Penasehat Hukum (PH) Robert Latuheru alias Roy yang merupakan terdakwa kasus tindak pidana narkotika jenis ganja, melaporkan oknum Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Ambon ke Kejaksaan Agung RI.

Laporan itu dibuat karena dia menilai, tuntutan JPU terhadap kliennya terlalu tinggi dan tidak berdasarkan asas keadilan.

Adolof mengungkapkan, dalam perkara yang melibatkan kliennya, terdapat tiga orang terdakwa. Yakni, kliennya sendiri Robert Latuheru, ditambah terdakwa Arnold Pattilatu dan Febri Rimpa.

Status ketiga terdakwa ini, Robert dan Arnold merupakan pemakai. Sedangkan Febri Rimpa adalah mengedar.

Kemudian di dalam tuntutan JPU, Febri Rimpa selaku pengedar dituntut 9 tahun penjara, karena merupakan residivis narkoba dan pernah menjalani hukuman lima tahun penjara sebelumnya.

Sedangkan terdakwa Robert dan Arnold yang sama-sama pemakai yang ditangkap bersama barang bukti berupa dua linting ganja yang dibeli dari terdakwa Febri Rimpa, malah dituntut berbeda. JPU menuntut Arnold Pattilatu dengan tuntutan 1,6 tahun penjara, sedangkan Robert Latuheru dituntut 6 tahun penjara.

“Nah ini saya mau sampaikan, dimana unsur keadilan. Fakta persidangan jelas, kalau barang bukti yang dipakai kedua terdakwa itu dua linting ganja. Anehnya ancaman mereka berbeda- beda. Ancaman terhadap kliensaya 6 tahun penjara itu terlalu berat dan tidak adil dalam perkara ini,” ungkap Adolof, Selasa (18/8).

Untuk itu, dia langsung mengajukan laporan ke Komisi Kejaksaan dan juga Kejaksaan Agung RI. Tembusannya ke Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku dan Kepala Kejaksaan Negeri Ambon.

“Di dalam laporan kami, kita sudah lapor Jaksa S. Aryani sebagai JPU dalam perkara ini. Artinya, kita mau supaya kejaksaan itu adil dalam menangani perkara hukum di negeri ini. Mereka juga harus berpikir adanya rasa keadilan dalam menuntut orang yang bersalah ketika dalam penuntutan. Bukannya seenaknya melakukan tuntutan terhadap orang yang bersalah. Padahal diperkara ini, barang bukti hanya dua linting kecil, tapi tuntutan jaksa itu tidak memperlihatkan hal ini, mereka mau langsung tuntut saja,” kesalnya.

Parahnya lagi, didalam dakwaan, jaksa mendakwa terdakwa dengan pasal 127 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika. Tapi di dalam berkas amar tuntutan JPU, amar tuntutan berubah menjadi pasal 111. Padahal yang jelas itu terdakwa merupakan pemakai.

“Ini ibarat ilustrasi lagu. Lirik lain, saat menyanyi liriknya sudah berubah. Pertimbangan hukum model apa ini,” kesal dia.

Sebelumnya diberitakan koran ini, pada persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Ambon, Selasa (11/8), Robert Latuheru alias Roy dituntut enam tahun penjara oleh JPU S. Aryani, dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Jeny Tulak cs.

Selain pidana badan, terdakwa juga dibebankam membayar denda sebesar Rp 800 juta, subsider enam bulan kurungan. “Menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 111 ayat (1) UU No 35 tahun 2009 tentang narkotika,” jelas JPU dalam berkas tuntutannya.

JPU dalam berkas dakwaannya menyebutkan, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terjadi pada 31 Januari 2020, sekitar pukul 11.30 WIT, bertempat di kawasan jalan Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.

Awalnya petugas dari Ditresnarkoba Polda Maluku, masing-masing Rivano Diky Latuperisa, Feliks Watimena, Andreas Baragain Sahubudin Ubrusan, mendapat informasi dari informan bahwa ada yang akan mengkonsumsi narkoba di daerah Benteng, Kecamatan Nusaniwe.

Dari informasi itu, petugas kemudian mendatangi TKP. Namun karena tidak ada gerak gerik orang di TKP, mereka kemudian berjalan terus ke daerah Amahusu. Di sana mereka menangkap terdakwa dengan barang bukti dua linting kecil ganja.

Dari hasil interogasi, terdakwa mengatakan kalau mendapat barang bukti berupa dua linting kecil ganja dari rekannya Arnold Pattilatu (berkas terpisah).

Setelah mendengar keterangan terdakwa, petugas bersama dia melakukan penangkapan terhadap Arnold di depan Planet Wainitu.
Saat diamankan,Arnold kemudian membeberkan kalau mendapat barang bukti itu dengan cara membeli dari terdakwa Febri Rimpa.

Setelah menerima informasi tersebut, petugas bersama terdakwa dan Arnold mendatangi tempat tinggal terdakwa di Belakang Soya, tepatnya di kantor JNT untuk menangkapnya.

Setelah itu, petugas membawa mereka ke kantor Dit Resnarkoba Polda Maluku untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.(SAD).

Comment