by

Pengacara Minta Ringankan Hukuman Dua Pengibar Bendera RMS

Ambon, BKA- Penasehat hukum dua terdakwa, Samuel Waileruly meminta kepada majelis hakim agar meringankan hukuman dua terdakwa yang terlibat dalam tindak pidana makar, yakni menaikkan bendera RMS saat HUT RMS pada 24 April 2020 kemarin.

Menurut Waileruly, hukuman yang diancam Jaksa Penuntut Umum (JPU) kepada kedua terdakwa dianggap terlalu tinggi, sehingga lewat kesempatan tersebut dirinya meminta agar ringankan hukuman kedua terdakwa.
“Kita minta keringanan kepada majelis hakim. Karena hukuman tiga tahun penjara dianggap terlalu berat,” tandas dia dalam sidang dengan pembacaan nota pledoi yang di pimpin ketua majelis hakim, Ahmad Hukayat Cs, Jumat kemarin.

Sebelumnya,JPU Kejati Maluku menuntut Dominggus Saiya dan Agustinus Amos Matatula alias Agus (57), terdakwa pengibar bendera Republik Maluku Selatan (RMS) di Negeri Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon dengan ancaman tiga tahun penjara dalam persidangan yang di gelar, Kamis (19/20).
Hal ini disampaikan JPU dalam sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Ahmad Hukayat Cs, sedangkan terdakwa didampingi kuasa hukumnya, Semuel Waileruly.

JPU Heru Hamdani menilai para terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana makar, sebagaimana diatur dalam Pasal 106 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dalam surat dakwaan kesatu.
Tuntutan ini dikurangi selama masa penahanan terdakwa.

Hal yang memberatkan para terdakwa ialah terdakwa mengganggu keutuhan dan dapat memecah belah NKRI, mengganggu stabilitas dan keamanan negara, serta mengganggu ketertiban umum. Sementara hal yang meringankan, terdakwa tidak berbelit-belit memberikan keterangan.

Dalam dakwaan, JPU menyebut, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terjadi tepatnya di halaman rumah terdakwa di Dusun Omputy, Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.
Awalnya,sebelum masuk dalam HUT RMS, kedua terdakwa bersama rekan-rekannya menggelar rapat membahas terkait perjuangan Dr.Alex Manuputty, tujuannya untuk mengembalikan kedaulatan Negara Republik Maluku Selatan, dan juga kepentingan pengibaran bendera RMS pada 25 April serta menunjukan eksistensi RMS di tanah Maluku. Kemudian disepakati masing-masing anggota harus mengibarkan bendera RMS di depan rumah masing-masing saat hari RMS dimaksud.

Awal pertemuan itu juga, terdakwa Amos Matatula yang tinggal di Gunung Nona, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, menghubungi terdakwa Dominggus Saiya yang sedang bekerja di Pulau Seram untuk datang mengikuti rapat bersama di rumah terdakwa Dominggus terdakwa di Desa Latuhalat. Karena terhitung sejak enam bulan lalu, terdakwa Amos sudah menyerahkan bendera RMS ke terdakwa Dominggus.
Kemudian pada 25 April 2020, terdakwa Dominggus Saiya langsung mengibarkan bendera RMS di depan rumahnya. Tidak menunggu lama, anggota Polsek Nusaniwe yang mengetahui aksi terlarang tersebut langsung mengamankan kedua terdakwa.

Dihadapan petugas, terdakwa mengakui melakukan hal tersebut karena memperingati HUT RMS, dan agar kedaulatan Negara Republik Maluku Selatan dikembalikan oleh Negara Republik Indonesi dan juga untuk melaksanakan perintah Dr. Alex Manuputty yang dikeluarkan melalui selebaran pengibaran bendera benang raja tersebut. jelas JPU dalam surat dakwaannya.(SAD)

Comment