by

Pengadaan Alat Simulator Poltek Tidak Sesuai RAB

Ada fakta baru yang diduga dilakukan oknum-oknum petinggi Poltek, yang melakukan pengadaan alat-alat simulator tahun 2019 senilai Rp 9.640.000.000.

Dana proyek senilai Rp 9 miliar lebih itu, diketahui dibelanjakan tidak sesuai dengan Rancangan Anggaran Belanja (RAB). Barang seharusnya diadakan dari Amerika, nyatanya barang tersebut berasal dari Cina, dengan nilai sebesar Rp 4,5 miliar.

“Jika memang hal ini bisa terjadi, maka yang jelas itu sudah ada perbuatan korupsi di dalam. Mengapa? Barang yang dibelajakan itu tidak sesuai dengan RAB. Sekali pun barangnya ada, tapi sesuai aturan harus sesuai RAB. Parahnya, barangnya datang sudah selesai masa kontrak,” ungkap praktisi hukum di Maluku, Abdul Syukur Kaliky, di Pengadilan Tipikor Ambon, Selasa (22/6).

Dengan demikian, lanjut Kaliky, Kejati Maluku tidak perlu menunggu lama untuk menjerat siapa tersangka dalam kasus ini. Sebab, jika berbica soal pengandaan barang dan jasa, di kontrak sudah disebutkan barang merek Kubota, maka penentuan harga sudah dilampirkan dalam kontrak itu. Lalu kemudian, barangnya datang bukan mesin Kubota, tapi mesin Yamaha, maka itu temuan korupsi.

Logikanya, mengapa barang yang didatangkan itu tidak sesuai kontrak, tapi barang jenis lain. “Maka sudah ada niat korupsi disitu,” bebernya.

Lanjut Kilikily, dalam undang-undang korupsi, perbuatan yang dilakukan terhadap kasus simulator poltek disebut kesalahan administrasi. Jadi harus diusut berdasarkan temuan-temuan UU yang ada.

“Jadi jaksa jangan menilai kasus ini dengan sebelah mata. Saya pikir, penyidik sudah bisa menerjemakan kronologis persoalan ini sejak awal. Untuk itu, saya berharap ada tindak lanjut dari Kejati Maluku, untuk menjerat siapa tersangka dalam kasus ini,” jelasnya.

Ditanyakan soal barangnya diadakan sesudah masa kontrak, apakah bisa masuk korupsi? Menurut dia, sesuai aturan, jika anggaran dicairkan lalu barangnya belum ada, maka itu perbuatan fiktif.

“Kalau memang benar, maka ini fiktif. Jadi Kejati harus kejar siapa saja pelaku-pelaku dalam kasus ini. Karena bagi masyarakat awam yang menilai kasus ini saja, sudah tentu mengetahui perbuatan pidana didalamnya. Lalu mengapa jaksa mau lama-lama. Harus tetapkan tersangkanya,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Seksi Penerangan dan Hukum Kejati Maluku, Wahyudi Karena, yang dikonfirmasi terkait tindak lanjut pengusutan kasus tersebut, mengatakan, Kejati Maluku masih melakukan penyelidikan dalam perkara itu.

“Kasus dugaan korupsi alat simulator Poltek masih dalam penyelidikan,” singkat Wahyudi.
(SAD).

Comment