by

Pengamat: Tanpa Liga, Sepak Bola Indonesia Alami Kemunduran

Pengamat sepak bola nasional, M. Kusnaeni, menilai terjadi kemunduran dari sisi persepakbolaan Indonesia lantaran tidak ada kompetisi di 2020.

Komite Eksekutif (Exco) PSSI) secara resmi memutuskan untuk menunda kompetisi Liga 1 dan 2 2020 usai tidak mendapatkan izin keramaian dari pihak kepolisian.
Dalam pandangan Kusnaeni yang akrab disapa Bung Kus, tanpa kompetisi penuh di tahun ini, sepak bola Indonesia mengalami kemunduran.
“Kondisi ini membuat Indonesia bukan hanya ketinggalan, tapi sebuah kemunduran karena tidak ada kompetisi tahun ini. Mulai dari kualitas Timnas baik di level junior sampai senior maupun citra Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar,” ucap Kusnaeni kepada CNNIndonesia.com, Senin (2/11).
Penundaan kompetisi musim 2020 itu membuat Indonesia sebagai satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) yang tidak melanjutkan kompetisi di 2020. Timor Leste baru menyelesaikan kompetisi 2020 atau Brunei Darussalam yang memilih tegas untuk meniadakan kompetisi tahun ini.
Sedangkan Kamboja, Myanmar, Filipina, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura dan Laos sudah mulai melanjutkan kompetisi sepak bola masing-masing di tengah pandemi Covid-19. Kondisi ini membuat Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara tetangganya dalam hal pengelolaan kompetisi.
Menurut Bung Kus, gambaran paling utama dari kondisi ini adalah citra negatif bagi persepakbolaan Indonesia.
“Situasi Covid-19 di ASEAN menurut saya sama parahnya jika dilihat jumlah kasus dan jumlah penduduknya di tiap negara. Di Indonesia kasus tinggi Covid-19 berbanding lurus dengan banyaknya jumlah penduduk.”
“Yang menarik, justru karena kita termasuk negara yang tidak bisa menyelesaikan kompetisi. Itu gambaran negatif wajah citra sepak bola Indonesia di mata dunia. Padahal kita calon tuan rumah Piala Dunia U-20,” ungkap Kusnaeni.
Selama ini, lanjut Kusnaeni, Indonesia dianggap sebagai negara yang maju kompetisinya. Itu dinilai dari kompetisi yang berjalan meriah, antusiasme suporter, tim kuat yang menang dan mampu berjuang di kompetisi level Asia walaupun sekadar di kasta kedua.
Tanpa kompetisi di tengah pandemi Covid-19 dinilai telah menggeser persepsi positif yang sama ini dibangun. Sebab banyak pertimbangan yang diberikan terhadap penilaian sukses sebuah kompetisi, bukan hanya pencapaian klub di kejuaraan level Asia semata.
“Kualitas kompetisi, penyelenggaraan kompetisi, manajemen kompetisi, pengaturan jadwal, kasus penunggakan gaji juga jadi bagian perhitungan yang buat penilaian terhadap kompetisi kita. Alasan ini juga yang seharusnya jadi pertimbangan ketika mengambil keputusan terkait kompetisi.”
“Ini pelajaran buat kita semua, utamanya PSSI dan Liga bahwa menyelenggarakan liga bukan hanya untuk kepentingan domestik, tapi juga ada citra Indonesia di dunia dan juga citra kompetisi kita,” ujar Kusnaeni.
Tidak berlanjutnya Liga 1 2020 tahun ini juga dianggap memberi kesan kondisi Indonesia yang tidak kondusif. Hal itu membuat banyak wisatawan asing enggan untuk datang karena menganggap kondisi di Indonesia belum aman.
Meski demikian, Kusnaeni menilai tidak berlanjutnya Liga 1 2020 bukan sepenuhnya kesalahan operator dan federasi.
“Ini keputusan kolektif bukan yang bergantung pada satu pihak, ini keputusan bangsa. Tapi tidak juga kita bergantung pada pihak keamanan saja, kan ada pihak yang mengajukan permohonan itu. Bisa tidak mereka berkomunikasi dengan baik? Mulai dari pemerintah pusat, Kemenpora, BNBP, PSSI, Kepolisian harus bisa berbicara untuk membangun pemikiran yang sama,” ujar Kusnaeni.
Tanpa kompetisi di musim ini, target Timnas Indonesia berprestasi di ajang seperti Piala AFF hingga Piala Dunia U-20 pada 2021 mendatang bisa sulit terwujud.
Meskipun hasil disebut tergantung bagaimana pelatih meramu materi, ujar Kusnaeni, tapi bagaimana bisa meramu jika melihat pemain secara langsung melalui kompetisi saja tidak pernah.
“Dampaknya, Indonesia jadi tidak menarik bagi pemain asing. Pemain yang tadinya semangat ke Indonesia, jadi berpikir ulang karena takut kalau kompetisinya bubar,” tutur Kusnaeni.
“Kalau Piala AFF jadi, pemain kita dalam kondisi yang hampir selama setahun tidak ada kompetisi. Sementara pemain Timor Leste masih hangat baru selesai, Thailand juga masih hangat. Suka tidak suka akan mempengaruhi,” ucap Kusnaeni menambahkan. (INT)

Comment