by

Pengangkut Material Gunung Botak Ditangkap

Kepolisian Resort (Polres) Pulau Buru berhasil menangkap dua pelaku pengangkut material tambang emas ilegal Gunung Botak, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru.

Kasat Reskrim Polres Pulau Buru, Iptu Handry Dwi Ashar, mengungkapkan, dua orang yang diamankan tersebut berinisial MH dan MW. Keduanya merupakan pemilik mobil yang mengangkut material emas dari dari Sungai Anahoni.

MW berasal dari Desa Kaiyeli, Kecamatan Teluk Kaiely. Sementara WH dari Unit 10.

“Kita mengamankan satu unit kendaraan jenis damtrek, yang diduga mengambil material emas dari Sungai Anahoni di wilayah Gunung Botak, Desa Wamsait, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru. Bisa dikatakan yang bersangkutan ini dia sebagai driver dan juga selaku pemilik kendaraan, merangkap sebagai pemilik material,” kata Iptu Handry, kepada BeritaKota Ambon di ruang kerjanya, Selasa (22/6).

Keduanya diamankan di Desa Waelo, Kecamatan Waelata, 30 Mei 2021 lalu, beserta barang bukti.

“Pada saat perjalanan di Desa Waelo, ada anggota yang mengamankan kendaraan tersebut. Setelah ditanya, karena anggota curiga, terkait dengan muatan yang diangkut, pada saat dicek, ternyata memang muatan damtrek tersebut adalah pasir yang mengandung emas dari Sungai Anahoni. Dan itu sudah dibenarkan oleh yang sekarang sudah menjadi tersangka, bahwa material tersebut diambil dari Sungai Anahoni,” ujar dia.

Kedua pelaku yang diamankan tersebut, telah ditetapkan sebagai tersangka. “Mereka sekarang sudah ditetapkan menjadi tersangka. Untuk muatannya sendiri itu, ada sekitar 4,78 meter kubik ada di dalam damtrek tersebut,” ungkapnya.

Mantan Kasat Narkoba Polres Pulau Buru itu menjelaskan, dari pengakuan yang bersangkutan, material ini akan diolah dengan metode rendaman.

“Tetapi pada saat diamankan, belum ada kegiatan rendaman. Jadi masih dalam proses pengangkutan. Dan kasus ini masih dalam pengembangan, tidak menutup kemungkinan dari keterangan akan muncul nama-nama baru,” ujarnya.

Handry menambahkan, atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 161 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu-bara (Minerba).

“Kita sangkakan Undang-Undang Minerba Pasal 161, yang dimana kita fokuskan pada kegiatan pengangkutan, acaman pidananya 5 tahun penjara dan dendanya Rp 10 miliar,” pungkasnya. (MSR)

Comment