by

Pengibar Bendera RMS Terancam Tiga Tahun Bui

Ambon, BKA- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Maluku menuntut Dominggus Saiya dan Agustinus Amos Matatula alias Agus, terdakwa pengibar bendera Republik Maluku Selatan (RMS) di Negeri Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, dengan ancaman tiga tahun penjara dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Ambon, Kamis (19/11).

Di depan Majelis Hakim yang dipimpin oleh Ahmad Hukayat,
JPU Heru Hamdani mengatakan para terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana makar, sebagaimana diatur dalam Pasal 106 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dalam surat dakwaan kesatu. Tuntutan tersebut dikurangi selama masa penahanan terdakwa.

Hal yang memberatkan para terdakwa, yakni, terdakwa mengganggu keutuhan dan dapat memecah belah NKRI, mengganggu stabilitas dan keamanan negara, serta mengganggu ketertiban umum. Sementara hal yang meringankan, terdakwa tidak berbelit-belit memberikan keterangan.

Dalam dakwaan, JPU menyebut, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terjadi tepatnya di halaman rumah terdakwa di Dusun Omputy, Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.

Awalnya, sebelum masuk dalam HUT RMS, kedua terdakwa bersama rekan-rekannya menggelar rapat membahas terkait perjuangan Dr. Alex Manuputty. Tujuannya untuk mengembalikan kedaulatan Republik Maluku Selatan, dan juga kepentingan pengibaran bendera RMS pada 25 April, serta menunjukan eksistensi RMS di tanah Maluku.

Dari rapat tersebut disepakati, masing-masing anggota harus mengibarkan bendera RMS di depan rumah masing-masing saat hari RMS.

Awal pertemuan itu juga, terdakwa Amos Matatula yang tinggal di Gunung Nona, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, menghubungi terdakwa Dominggus Saiya yang sedang bekerja di Pulau Seram, untuk datang mengikuti rapat bersama di rumah terdakwa Dominggus di Desa Latuhalat. Karena terhitung sejak enam bulan lalu, terdakwa Amos sudah menyerahkan bendera RMS ke terdakwa Dominggus.

Kemudian pada 25 April 2020, terdakwa Dominggus Saiya langsung mengibarkan bendera RMS di depan rumahnya. Tidak menunggu lama, anggota Polsek Nusaniwe yang mengetahui aksi terlarang tersebut langsung mengamankan kedua terdakwa.

“Dihadapan petugas, terdakwa mengaku melakukan hal tersebut karena memperingati HUT RMS, dan agar kedaulatan Negara Republik Maluku Selatan dikembalikan oleh Negara Republik Indonesi dan juga untuk melaksanakan perintah Dr. Alex Manuputty yang dikeluarkan melalui selebaran pengibaran bendera benang raja tersebut,” tandas JPU dalam surat dakwaannya.(SAD).

Comment