by

Penjualan Tanah Raden Pandji Tak Sah

Ambon, BKA- Irfan Ali salah satu penjual tanah yang terletak di kawasan jalan A. M. Sangadji kota Ambon, atau tepatnya Graha Raden Pandji diduga telah melakukan pemalsuan ahi waris saat melakukan penjualan terhadap lahan tersebut. Irfan Ali dengan maksud untuk melakukan jual beli

sebidang tanah milik keluarga dan kerabatnya yang terletak di kawasan jalan A. M. Sangadji kota Ambon, atau tepatnya Graha Raden Pandji yang selama ini dihuni oleh keluarga Pelupessy yang adalah keturunan dari almarhumah Erna Namira Ali. Yang adalah ahli waris langsung marga Ali selaku pemilik tanah tersebut.

Roos Jeane Alfaris selaku kuasa hukum marga Pelupessy kepada wartawan Rabu (12/8) mengatakan. Dirinya selaku kuasa hukum bersama kliennya telah mengecek langsung ke Pengadilan Agama Ambon. Selaku lembaga yang mengeluarkan penetapan ahli waris marga Ali selaku pemilik lahan.
“Saat kami mengecek ke Pengadilan Negeri Agama Ambon pihak

pengadilan kaget dengan isi dari penetapan tersebut dan pihak pengadilan agama menyatakan bahwa yang mereka buat itu hanyalah penetapan dan bukan untuk pembagian harta warisan. Padahal.didalam penetapan tersebut disebutkan bahwa ibu dari klien saya telah meninggal tidak memiliki keturunan,” beber Alfaris.

Pengacara senior itu mengatakan, diduga pemalsuan ahli waris yang dilakukan Irfan Ali yang masih berkerabat dengan kliennya itu. Lantaran Irfan Ali ingin menjual tanah tersebut. Dan belakangan diketahui bahwa tanah milik kliennya itu telah dijual oleh Irfan Ali yang adalah paman mereka seharga Rp.3,5 miliar, dan tanah tersebut di beli oleh Rusdi Ambon yang kini menjabat selaku Direktur PD. Panca Karya pada bulan Juli 2019 lalu.

Dimana jual beli antara Irfan Ali selaku penjual, tambah Alfaris dan Rusdi Ambon selaku pembeli, dilakukan tanpa sepengetahuan kliennya sebagai salah satu ahli waris.

“Klien saya dan saudara saudaranya baru mengetahui kalau tanah mereka sudah dijual oleh paman mereka sendiri, saat sang paman Irfan Ali membagi bagikan uang hasil penjualan tanah tersebut kepada klien saya dan saudara saudaranya, ” jelas Alfaris yang didampingi dua rekannya yakni John Berhitu dan Miraldo Andriesz.

Yang menjadi pertanyaannya lanjut Alfaris. Jika Irfan Ali menyatakan bahwa kliennya bukan ahli waris, lalu mengapa Irfan Ali mesti membagi bagikan uang hasil penjualan tanah itu kepada kliennya. Itu berarti Irfan Ali mengakui secara hukum bahwa klien dia adalah salah satu ahli waris sah dari tanah tersebut.

“ Namun nyatanya dalam akta jual beli yang dibuat oleh notaris Lidya Gosal, sama sekali tidak ada tanda tangan klien kami selaku ahli waris. Itu berarti jual beli tersebut tidak sah dan cacat hukum karena penjualan dilakukan tanpa sepengetahuan klien saya selaku ahli waris. Oleh karenanya transaksi penjualan tanah yang dilakukan Irfan Ali haruslah batal demi hukum,” jelasnsya.

Dia mengaku, dengan berbagai kejanggalan yang ditemui tersebut, mereka akan melakukan upaya hukum dengan menggugat Irfan Ali ke Pengadilan Negeri Ambon. “Jadi, kami akan menyiapkan gugatan dan akan kami masukan gugatan terkait penetapan ahli waris itu ke Pengadilan. Bahkan kami juga akan melaporkan Irfan Ali ke polisi dengan tuduhan pemalsuan ahli waris,” tandas Alfaris.(SAD)

Comment