by

Penyebar Foto Bugil Diganjar 4 Tahun Penjara

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Ambon, mengganjar Hermanto Hermanus Groda, pria penyebar foto bugil wanita di media sosial (medsos), dengan pidana penjara selama empat tahun dalam sidang yang berlangsung, Kamis (3/6).

Pria 30 tahun asal Flores Adonara provinsi NTT ini, dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal 27 ayat (1) jo pasal 45 ayat (1) undang undang RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas undang undang RI nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik jo pasal 64 ayat (1) KUHP.

“Mengadili, menyatakan terdakwa terbukti bersalah, melanggar undang-undang ITE. Dengan demikian terdakwa divonis penjara selama 4 tahun, serta denda 100 juta subsider 2 bulan kurungan,” ujar Ketua Majelis Hakim, Orpa Martina, dalam amar putusannya.

Sidang dihadiri Kuasa Hukum terdakwa, Robert Lesnussa dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rozali Afifudin.
Putusan majelis hakim ini sama halnya dengan tuntutan jaksa penuntut umum, yang sebelumnya menuntut terdakwa agar dipenjara selama 4 tahun dipotong masa tahanan.
Sebelumnya, akibat salah mengunakan media sosial Hermanto Hermanus Groda akhirnya diciduk personel Ditrsekrimsus Polda Maluku di Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kasus ini terbilang unik, lantaran dirinya berhasil mengelabui lima wanita asal Ambon yang baru dikenalnya lewat medsos untuk mengirim foto bugil kepadanya. Kemudian foto bugil itu digunakan tersangka sebagai senjata untuk mengancam para korban.

Terdakwa melaksanakan aksi lewat FB miliknya. Posisi terdakwa di NTT, sementara para korban ini warga Ambon. Modus yang digunakan terdakwa untuk mengelabui korbannya adalah dengan melakukan chat dengan para korban melalui akun massanger facebook miliknya. Kemudian terdakwa menjanjikan akan berikan sejumlah uang apabila korban membuat dan mengirim foto maupun video asusila/pornografi sesuai yang diiinginkan oleh terdakwa.

Tak puas hanya meminta foto bugil korban, terdakwa juga meminta para korbannya untuk mencari lawan untuk berhubungan intim. Kemudian merekam aksi tersebut yang selanjutnya video asusila para korban itu dikirim kepada terdakwa, yang juga meminta para korbannya untuk memberikan hak akses ke akun facebook pelapor untuk diambil alih atau membajak akun korban, dan digunakan sebagai testimony untuk mengelabui dan meyakinkan korban selanjutnya

“Setelah terdakwa mendapat video dan foto yang dia mau, terdakwa bajak akun korban. Digunakan untuk menunjukkan seolah-olah akun korban telah dikirimi sejumlah uang karena telah mengirim foto maupun video tersebut seolah-olah percakapan maupun bukti transfer pada akun massanger Facebook para korban,” pungkas JPU.(SAD).

Comment