by

Peringatan Hari Perjuangan Martha Christina Tiahahu

Ambon, BKA- Tepat 203 tahun silam, Martha Christina Tiahahu dengan sabar dan berani menyongsong ajalnya diatas Kapal Perang Eversten, milik Belanda. Tanpa ada sepatah kata menyerah.

Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya turut mengusir penjajah dari tanah Nusantara, yakni, Maluku, Martha Christina Tiahahu dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 20 Mei 1969 lalu.

Bertepatan dengan itu, Sabtu (2/1), kemarin, Dari atas KRI Kerapu-812 yang bersandar di Dermaga Irian, Mako Lantamal IX, Komandan Lantamal IX Laksma TNI Jokowiyono memimpin upacara ziarah laut atau tabur bunga memperingati jasa perjuangan putri pemberani Maluku, Martha Christina Tiahahu, yang wafat pada 2 Januari 1818 silam.

Upacara itu dihadiri Wakapolda Maluku Brigjen Pol Jan Leonard de Fretes, Sekda Maluku Kasrul Selang, Wakajati Maluku Undang Magopal, perwakilan Kodam XVI/Pattimura dan perwakilan Lanud Pattimura.

Dikutip dari Wikipedia.org, Martha Christina Tiahahu, lahir di Nusa Laut, 4 Januari 1800. Meninggal di Laut Banda, 2 Januari 1818, dalam usia yang masih sangat belia.

Memang diusia yang masih remaja, 17 tahun, Martha Christina Tiahahu sudah mengangkat senjata melawan penjajah Belanda, mendampingi ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu asal Negeri Abubu, Pulau Nusalaut.

Sebagai gadis pemberani, dia tak pernah takut maupun gentar menghadapi hadangan senjata Belanda. Bahkan dia memiliki reputasi yang mampu membuat musuh bergidik ketakutan.

Walau begitu, penampilannya tidak ada yang mencolok. Dia seperti gadis kebanyakan. Ramputnya yang panjang, hanya diikat sehelai kain berang (merah).

Keberaniannya juga telah mengobarkan semangat kaum perempuan di negeri-negeri yang ada di Maluku, untuk ikut membantu kaum pria disetiap medan pertempuran. Hal itulah yang membuat Belanda kewalahan menghadapi kaum wanita yang ikut berjuang.

Di dalam pertempuran sengit di Desa Ouw – Ullath jasirah tenggara Pulau Saparua, Martha Christina Tiahahu bersama para pejuang rakyat menggempur musuh. Namun akhirnya karena tidak seimbang dalam persenjataan, diatambah dengan tipu daya musuh dan pengkhianatan, para tokoh pejuang dapat ditangkap dan menjalani hukuman.

Sebagian pejuang ada yang mati digantung dan ada yang dibuang ke Pulau Jawa. Kapitan Paulus Tiahahu divonis hukuman mati, tembak.

Martha Christina Tiahahu berjuang untuk melepaskan ayahnya dari hukuman mati. Tapi dia tidak berdaya, dan meneruskan bergerilyanya di hutan. Akhirnya dia pun tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa.

Diatas Kapal Perang Eversten, dalam perjalanan menuju pengasingannya di Pulau Jawa, Martha Christina Tiahahu menghembuskan nafas terakhir. Dengan penghormatan militer, kemudian jenazah-nya disemayamkan ke Laut Banda.(RHM)

Comment