by

Perusahaan Keluhkan Pembatasan Penumpang Kapal

Ambon, BKA- Banyak keluhan atas tariff tiket yang dinilai mahal, ditanggapai salah satu perusahaan pelayaran swasta PT Dharma Indah. Menurutnya, kenaikan tariff karena adanya pembatasan penumpang oleh pemerintah akibat Covid-19. Yang membuat pemasukan tidak sebanding dengan biaya operasional.

Perusahaan pelayaran yang melayani trayek Ambon-Moa (MBD) ini menilai, pembatasan jumlah penumpang yang ditetapkan pemerintah, mengakibatkan pendapatan yang diterima tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan.

Kepala Operasional PT Dharma Indah, Junaidi Heluth mengaku, sebagai perusahaan pelayaran swasta tentu sangat mendukung kebijakan pemerintah dalam melayani masyarakat. Namun di tengah bencana non alam yang saat ini masih bergejolak, kebijakan pemerintah justru berdampak buruk bagi perusahaan. Sehingga kebijakan untuk menurunkan tarif tiket justru dapat menjadi bumerang.

“Untuk satu kali trayek, perusahaan harus menyiapkan 19 ton bahan bakar ke satu unit kapal, dengan kapasitas muatan penumpang sebanyak 548 penumpang. Tetapi dengan adanya pembatasan penumpang sebanyak 100 orang untuk memenuhi protokol kesehatan, mengakibatkan capaian target anggaran operasional tidak terpenuhi. Karena itu berdasarkan keputusan bersama pemerintah, maka kita menaikan harga tiket 100 persen dari tarif normal,” jelasnya.

Tetapi lanjut Heluth, kenaikan tarif tersebut belum memenuhi biaya operasional kapal. Sehingga pihak perusahaan hingga saat ini tidak dapat melalukan normalisasi harga sesuai dengan keinginan masyarakat.

Dikatakannya, berdasarkan instruksi Bupati Nomor 188.45.5/ 20.b/2021 yang diterima pada 1 Februari 2021 kemarin, kapasitas muatan penumpang telah dinaikan menjadi 150 orang. Namun hal ini juga belum menjadi solusi bagi persoalan anggaran operasional kapal.

“Kita tentu tidak mengharapkan kondisi pandemi ini sampai berkelanjutan, namun jika kondisi seperti ini masih ada dan perusahaan swasta seperti kita harus mengikuti protokol kesehatan Covid-19, bisa saja perusahaan pahatan seperti kami bisa gulung tikar. Karena pendapatan tidak seimbang dengan pengeluaran yang sifatnya wajib,” ungkapnya.

Apalagi lanjutnya , saat ini jumlah penumpang yang menggunakan jasa PT Dharma indah cukup kecil. Dimana sekali trayek, khususnya yang melayani Ambon-moa dan sebaliknya , paling tinggi hanya mengangkut 65 orang. Tentu muatan seperti ini tidaklah mencukupi target operasional perusahaan.

“Mungkin masyarakat menilai harga tiket yang kami tetapkan cukup mahal, tetapi jika penumpang yang ikut berlayar dengan kapal kami hanya sebanyak 65 orang. Maka sudah pasti hal ini sangat berpengaruh pada pendapatan kami, bahkan kami pernah menjalankan kapal hanya dengan 30 penumpang. Padahal bahan bakar yang kami gunakan itu tetap sama. Karena itu baik pemerintah maupun masyarakat diharapkan dapat melihat konskuensi yang kami ambil demi melayani masyarakat,” tegasnya.

Dia berharap, pemerintah kabupaten dapat melihat persoalan tersebut agar dalam pembatasan penumpang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

“Kita bisa saja menurunkan harga tiket, jika minimal pemerintah memberikan kelonggaran kepada perusahaan untuk menaikan kapasitas muatan minimal 50 persen dari kapasitas normal. Sehingga dapat membantu pendapatan perusahaan dalam pencapaian anggaran operasional kapal,” harapnya. (BKA-4)

Comment