by

PH Sebut Dakwaan Jaksa Batal Demi Hukum

Ambon, BKA- Adolof Gerrit Suryaman yang merupakan Kuasa Hukum (PH) Robert Latuheru alias Roy, terdakwa kasus dugaan tindak pidana narkotika jenis ganja, menilai dakwaan dan berkas tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Ambon, batal demi hukum. Karena terdapat cacat materil dan merupakan surat dakwaan yang abscuur libellum.

Hal ini diungkapkan Adolof Gerrit Surnyaman dalam nota pembelaan (Pledoi), yang dibacakan pada persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Ambon, yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Jenny Tulak Cs, Selasa (25/8).

Menurut PH, pasal 111 ayat (1) yang dipakai untuk mengancamn terdakwa, dinilai tidak tepat. Karena yang seharusnya, pasal yang digunakan adalah pasal 127 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

“Menghukum terdakwa harus sesuai perbuatannya, yakni, melanggar pasal 127 ayat (1) hutuf a UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, atau ditempatkan terdakwa dilakukan rehabilitasi oleh BNNP Maluku,” jelas Suryaman, dalam membacakan nota pledoi tersebut.

Maka dari itu, lanjut pengacara senior itu, di dalam perkara ini, terdakwa tidak berbelit-belit dalam persidangan. Bahkan dalam perkara ini, terdakwa sudah bersama-sama mengungkap peredaran narkotika yang dilakukan rekan-rekannya (berkas terpisah).

“Terdakwa juga berlaku sopan dan tidak merekayasa keterangan di dalam persidangan, sehingga kami meminta agar majelis hakim dapat membatalkan semua tuntutan JPU, yakni, bebaskan terdakwa dari tuntutan JPU yang menuntut agar dipenjara selama 6 tahun, denda Rp 800 juta, subsider enam bulan kurungan penjara,” tandas Suryaman, seraya menyerahkan nota pledoi kepada tiga majelis hakim dan JPU.

Setelah mendengarkan tuntutan JPU, hakim menunda sidang hingga pekan depan, dengan agenda putusan majelis hakim.

Sebelumnya, JPU menuntut terdakwa Robert Latuheru alias Roy dengan penjara selama enam tahun, denda Rp.800 juta subsider enam bulan penjara. “Menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 111 ayat (1) UU No 35 tahun 2009 tentang narkotika,”jelas JPU dalam berkas tuntutannya.

JPU dalam berkas dakwaannya menyebutkan, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terjadi pada 31 Januari 2020, sekitar pukul 11.30 WIT, bertempat di kawasan jalan Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.

Awalnya petugas dari Ditresnarkoba Polda Maluku, masing-masing, Rivano Diky Latuperisa, Feliks Watimena, Andreas Baragain Sahubudin Ubrusan, mendapat informasi dari informan, bahwa ada yang akan mengkonsumsi narkoba di daerah Benteng, Kecamatan Nusaniwe.

Dari informasi itu, petugas kemudian mendatangi TKP. Karena tidak ada gerak gerik orang di TKP, mereka kemudian berjalan terus ke daerah Amahusu. Di sana mereka menangkap terdakwa dengan barang bukti dua linting kecil.

Dari hasil interogasi, terdakwa mengatakan kalau mendapat barang bukti berupa dua linting kecil ganja dari rekannya Arnold Pattilatu (berkas terpisah).

Setelah mendengar keterangan terdakwa, petugas bersama dia melakukan penangkapan terhadap Arnold di depan Planet Wainitu.
Saat diamankan, Arnold kemudian membeberkan kalau mendapat barang bukti itu dengan cara membeli dari terdakwa Febri Rimpa.

Setelah menerima informasi tersebut,petugas bersama terdakwa dan Arnold mendatangi tempat tinggal terdakwa di Belakang Soya, tepatnya di kantor JNT untuk menangkapnya.

Setelah itu, petugas membawa mereka ke kantor Dit Resnarkoba Polda Maluku untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.(SAD).

Comment