by

PH Siapkan Pembelaan Ayah Bejat

Ambon, BKA- Tim Penasehat Hukum (PH) dari Pos Bantuan Hukum Pengadilan Negeri Ambon yang menangani langsung kasus persetubuhan yang dilakukan terdakwa ayah bejat Ananias Lawalata alias Is, akan menyiapkan nota pembelaan (pledoi) untuk persidangan lanjutan nanti di Pengadilan Negeri Ambon.

“Kita sedang kumpulkan fakta-fakta persidangan untuk menyusun berkas pledoi terdakwa,” ungkap Dominggus Huliselan kepada Beritakota Ambon, Jumat kemarin.

Ditanyakan soal apa saja materi pledoi yang disiapkan, kata dia, belum bisa dibeberkan, semuanya akan dibacakan dalam persidangan.
“Kalau itu nanti dipersidangan saja baru bisa dengar. Karena ini materi pledoi, tunggu waktu main saja ya,” tandasnya.

Sebelumnya, Ananias Lawalata alias Is, ayah bejat ini dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Ambon dengan pidana penjara selama 10 Tahun dalam persidangan di Pengadilan Negeri Ambon, Senin (1/9).
Pria yang bermukim di kawasan Mangga Dua, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon ini dinyatakan berbukti bersalah melakukan tindak pidana persetubuhan sebagaimana diatur dalam pasal 285 KUHPidana jo pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Sidang tuntutan tersebut di pimpin ketua majelis hakim Feliks R. Wuisan Cs, sedangkan terdakwa didampingi kuasa hukumnya Alfred Tutupary.

Sebelumnya JPU Kejari Ambon, Lilia Helut dalam berkas dakwaannya menguraikan, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terjadi, berulang kali, sejak tahun 2013-2017.
Saat itu istri terdakwa (Ibu korban) tidak berada di dalam rumah. Dan korban juga baru pulang dari sekolah, sampai di rumah terdakwa geram atas sikap korban tanpa alasan yang jelas.

Selanjutnya pada saat terdakwa di dalam kamar, dia kemudian menyuruh korban untuk masuk mengikutinya.
Sampai disitu, korban sambil diancam dan akhirnya menuruti kemauan terdakwa yang menyuruh untuk berhubungan badan layaknya suami istri.
Bukan hanya disitu, waktu terus berjalan, korban selalu digagahi terdakwa pada saat kondisi rumah sepi, saat itu terdakwa selalu mengancam mengeluarkan korban dari rumahnya karena korban merupakan anak tiri dan marganya tidak sama dengan terdakwa.

Bahkan lanjut JPU, sampai korban beranjak dewasa dan duduk di bangku SMA, terdakwa masih merupaya menyetubuhi korban, ibu korban yang sudah mendengar cerita dari korban namun karena suaminya (terdakwa) yang sedang menafkahi mereka dan sedang menanggung biaya kuliah korban, sehingga dia takut untuk melaporkan hal ini ke pihak berwajib.

Suatu waktu, korban yang sudah tak tahan, datang ke rumah bibinya, dia memilih untuk menceritakan apa yang sudah dialami korban. bibinya kemudian geram dengan tindakan bejat terdakwa, kemudian mendatangi Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease untuk melaporkan kejadian yang dialami korban untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.(SAD)

Comment