by

Pidato Nabi Muhammad SAW dalam Menyambut Ramadhan

Oleh: H. Imam Musonep, S.Ag., MH. (Ketua Ikatan Dai Indonesia Provinsi Maluku)

Menyambut dengan rasa sukacita dan bersyukur akan datangnya bulan suci Ramadhan, merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam Islam. Meskipun hingga saat ini kita sedang diuji dengan Covid-19, namun umat Islam tetap melakukan tarhib Ramadhan dengan ungkapan “Marhaban Ya Ramadhan”.

Kata tarhib dalam bahasa Arab berasal dari kata rahhaba, yurahhibu, tarhiiban, yang berarti melapangkan dada, menyambut dengan mesra serta senang hati. Dalam konteks ini, tarhib alias menyambut bahagia kedatangan bulan suci Ramadhan termasuk cerminan iman.

Ramadhan merupakan anugerah, karunia dan rahmat Allah. Untuk itu kita diperintahkan berbahagia dengannya, sebagaimana firman-Nya: Katakanlah, Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan itu hendaklah mereka bergembira. Sebab karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. (QS Yunus: 58)

Rasulullah SAW biasa melakukannya. Bahkan beliau telah men-tarhib Ramadhan dua bulan sebelumnya. Sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik RA, ketika memasuki bulan Rajab Nabi SAW berdoa: Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah umur kami di bulan Ramadhan. (HR Imam Ahmad dan Ath Thabrani).

Tentu hal ini sangat penting guna menanamkan kerinduan kepada Ramadhan, sekaligus sebagai upaya persiapan mental (tahyi’ah nafsiyah), spiritual (tahyi’ah ruhiyah), dan intelektual (tahyi’ah fikriyah). Tanpa persiapan mental, spiritual, dan intelektual puasa Ramadhan hanya akan menjadi kegiatan ritual keagamaan tahunan tanpa makna, tanpa pahala, dan tidak mampu memberikan pengaruh positif bagi kehidupan.

Dengan persiapan dan perbekalan yang maksimal akan mampu meraih sukses Ramadhan secara optimal. Untuk itu, di hari terakhir Sya’ban, Rasulullah SAW kembali mengkondisikan ummatnya dengan menyampaikan pidato dalam menyambut Ramadhan dengan menjelaskan keutamaan-keutamaannya: Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah. Di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib dan qiyamul lail-nya sunnah. Barang siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain. Barang siapa yang mengerjakan kewajiban, makan seperti mengerjakan 70 kewajiban di bulan lain.

Ramadhan adalah bulan sabar, dan sabar itu balasannya surga. Ramadhan bulan solidaritas dan bulan ditambahkan rezeki orang mukmin. Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi sedikit pun pahalanya.

Para sahabat berkata: Ya Rasulullah, tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa.

Rasulullah SAW bersabda: Allah memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa, meskipun hanya dengan seteguk susu atau satu biji kurma atau seteguk air. Barangsiapa yang membuat kenyang orang berpuasa, maka Allah akan memberikan minum dari telagaku satu kali minuman yang tidak akan pernah membuatnya haus sampai ia masuk surga. (HR Ibnu Huzaimah, Al Baihaqi).

Mudah-mudahan puasa Ramadhan kita pada tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, sehingga menjadi momentum perubahan diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Kesungguhan kita bertaubat, beribadah, dan berdoa di bulan terkabulnya doa ini menjadi wasilah (perantara) cepat terangkatnya wabah virus corona ini dari kehidupan kita. Dan Semoga Ramadhan ini juga mampu memancarkan berbagai macam bentuk ketakwaan. Sebab satu tujuan utama diwajibkannya puasa Ramadhan adalah agar hamba bertakwa.(*)

Comment