by

PJJ Dinilai Terkendala Karena Minim Anggaran

Pola Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterapkan pemerintah sebagai solusi pembelajaran di masa pandemi Covid-19, memang merupakan langkah yang tepat.

Namun penerapannya dinilai belum maksimal, karena minimnya persiapan yang dilakukan oleh pemerintah. Terutama dari segi anggaran untuk memfasilitasi proses belajar mengajar secara daring. Sehingga menimbulkan banyak keluhan dari masyarakat, terutama orangtua siswa.

Rouslim R Musaad, salah satu Guru (Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Ambon, menilai, proses PJJ yang dilakukan saat ini mengalami kendala karena minimnya anggaran.

Sebab untuk melaksanakan PJJ, khususnya secara Daring, perlu disiapkan berbagai hal. Misalnya, infrastruktur belajar Daring, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM), akses internet, serta perlengkapan lainnya.

Minimnya persiapan pemerintah untuk melaksanakan proses belajar mengajar itu, membuat orangtua maupun pihak satuan pendidikan atau sekolah menjadi kewalahan.

“Itu semua akan menjadi kendala karena harus melibatkan banyak orang untuk membantu, dan pastinya itu memerlukan biaya yang besar. Kalau masing-masing SP tidak memiliki anggaran yang cukup, maka akan berdampak. Bukan saja kepada sekolah, tapi para siswa atau orangtua tentu akan semakin terkendala karena berbagai tuntutan dari PJJ tersebut,” ungkap Musaad, Kamis (20/18).

Minimnya anggaran PJJ, katanya, membuat proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan siswa menggunakan media teknologi digital tersebut, menjadi tidak maksimal.

“Hasilnya adalah, meskipun materi belajar itu didesain dengan menarik oleh guru, tapi dalam penyampainnya tidak maksimal karena siswa tidak memiliki fasilitas Hp android, juga percuma. Sebaliknya, siswa memiliki fasilitas, tapi guru tidak kreatif, juga sama saja. Ataupun semuanya sudah siap, tapi guru tidak bisa menyesuaikan diri untuk memanfaatkan media teknologi yang ada, juga sulit. Ini yang menurut saya, perlu kerja sama semua pihak, karena memang butuhkan anggaran yang besar. Guru harus dilatih, fasilitas sekolah harus siap, dan pastikan siswa juga harus siap, baik dari segi fasililitas maupun mentalnya. Sepanjang itu tidak siap, maka akan menjadi kendala terus-menerus,” paparnya.

Memang katanya, tidak bisa dipungkiri kalau sekolah sebagai lembaga penyelenggara PJJ ini tidak bisa sendiri dalam menangani semua kebutuhan PJJ. Perlu bantuan dari pihak lain, terutama dari Dinas Pendidikan, untuk bersama-sama melihat dan menjawab kebutuhan dari PJJ, karena pihak sekolah terbatas dengan anggaran.

“Kalau ada dukungan, kemudian didukung dengan kompetensi yang baik dari guru, maka bisa perlahan-lahan PJJ yang dilakukan berjalan baik. Tapi kalau tidak ada bantuan, maka akan terus menjadi kendala bagi proses belajar jarak jauh ini. Untuk hal ini, memang tidak bisa kerja sendiri-sendiri karena butuh kesiapan maksimal, khusus dari segi anggaran harus siap,” tandas Musaad.(LAM)

Comment