by

PJJ Tidak Efektif, Ratumanan Minta Pemkot Lakukan Pemetaan Wilayah

Ambon, BKA- Guru Besar Fakulta Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Prof. Dr. T. G. Ratumanan, meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon segera melakukan pemetaan wilayah untuk melakukan belajar tatap muka.

Hal itu penting untuk dilakukan Pemerintah Kota Ambon, guna kembali meningkatkan kualitas pendidikan yang semakin terpuruk di masa pandemi Covid-19. Sebab Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang sementara dilakukan, tidak lagi efektif. Sehingga tidak bisa dipertahankan.

Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri, terangnya, telah memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk bisa melakukan belajar tatap muka, yang disesuaikan dengan perkembangan Covid-19. Bahwa memang di Kota Ambon masih ada penyebaran virus tersebut, sehingga diperlukan pertimbangan yang matang untuk melakukan hal itu, karena dikhawatirkan muncul kluster baru.

“Kalau di Kota Ambon, khususnya pusat kota dan daerah-daerah lain yang rawan Covid, itu belum cocok untuk kita terapkan pembelajaran di sekolah. Karena memang angka penderita Covid-19 kan masih relatif tinggi. Jadi menghindari kegiatan belajar di sekolah itu mungkin akan lebih baik, supaya jangan sampai nanti terbangun kluster baru disekolah,” terangnya, Kamis (14/1).

Walau begitu, katanya, jangan sampai Pemerintah Kota Ambon menutup mata terhadap dampak PJJ bagi kualitas pendidikan. Bahwa berdasarkan hasil pengamatan dan hasil kajian dari sejumlah pihak, sekolah Daring atau biasa disebut sekolah jarak jauh ini membuat proses pembelajaran menjadi tidak efektif.

“Mungkin Pemkot Ambon juga punya hasil evaluasi tersendiri. Tapi harus mengakui, bahwa sekolah Daring di daerah Ambon memang tidak efektif bagi siswa. Hal ini tentunya didukung dengan berbagai macam alasan,” ujarnya.

Di Ambon, lanjutnya, waktu belajar siswa SD, paling lama 2 jam sampai 3 jam. Setelah itu selesai. Jadi tingkat pembelajaran siswa di Kota Ambon terjadi penurunan yang cukup drastis. Volume belajarnya itu turun sekitar 50 persen.

Karena itu, dia meminta Pemkot Ambon segera melakukan pemetaan wilayah-wilayah zona merah, orange, kuning hingga hijau. Untuk melakukan belajar tatap muka.

Setelah melakukan pemetaan, kata Ratumanan, Pemkot Ambon memberikan ijin belajar tatap muka di sekolah bagi wilayah zona hijau. Atau bila perlu juga bagi daerah zona kuning. Tentu dengan tetap menggunakan protokol kesehatan.

Pada zona merah dan orange, menurutnya, juga bisa dilakukan belajar tatap muka. Tapi bukan di sekolah. Melainkan secara kelompok-kelompok di wilayah tersebut. Hal itu dilakukan untuk bisa mengembalikan proses belajar secara efektif di Kota Ambon.

“Jadi setelah pemetaan, yang pertama itu untuk wilayah atau kecamatan zona merah atau orange, guru melakukan kunjungan-kunjungan ke rumah siswa. Kedua, membentuk grup-grup belajar lalu kemudian di lakukan pendampingan. Jadi belajar tatap muka, tapi secara kelompok. Tinggal bagaimana sekolah fasilitasi guru lewat dana BOS saja. Sementara untuk wilayah yang zona hijau, misalnya, daerah-daerah dibagian Teluk Ambon, seperti, Laha, Hatiwe Besar, Tawiri, dan Hunut, bisa menjalankan aktifitas belajar tatap muka langsung, tetapi harus mengikuti peraturan dari tim gugus kesehatan atau patuhi protokol kesehatan. Jadi sebenarnya di Kota Ambon ini bisa jalankan sekolah tatap muka, dengan syarat-syarat tertentu. Yang penting itu, Pemkot memetakan wilayah-wilayah yang termasuk zona merah dan zona hijau dulu. Itu penting untuk dilakukan, karena kalau tidak, akan semakin memberikan dampak besar, khusus untuk kualitas generasi kita kedepan. Karena tidak kita pungkiri, ada anak-anak yang tidak pernah belajar akibat tidak punya fasilitas. Dengan kondisi itu, tidak mungkin kita tinggal diam terus. Harus segera ambil langkah untuk selamatkan generasi kita ini,” tandas Ratumanan. (LAM)

Comment