by

Polda Maluku Tebang Pilih Usut Kasus Arisan Online

Ambon, BKA- Kepolian Daerah Maluku terkesan tebang pilih dalam melakukan pengusutan kasus terhadap laporan aduan arisan online Winebutiq yang dilaporkan korban inisial LP (38), dengan 15 terlapor ke Polda Maluku sejak 12 Januari 2019 lalu.

Melalui kuasa hukum pelapor atau korban, Edwardo Diaz kepada koran ini mengatakan, diduga Polda Maluku tebang pilih dalam melakukan pengusutan terhadap laporan kliennya. Pasalnya, kasus ini kliennya LP, yang bermukim di Belakang Soya, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon ini mengalami kerugian sekitar Rp.100 juta lebih.

Hal ini dikarenakan para terlapor yang berjumlah 15 orang itu tidak menyetor arisan kepada pelapor. Dan karena merasa dirugikan, kliennya langsung melaporkan kasus ini ke Polda Maluku untuk diusut, hanya saja, usut punya usut, Polda Maluku mengatakan kasus tersebut tidak masuk dalam unsur pidana, namun harus masuk ranah perdata. Mereka mengambil contoh kasus yang sama terhadap tersangka Ekasary Jurniaty yang divonis bebas di Pengadilan Negeri Ambon.

“Ini klien saya kan korban penipuan akibat perbuatan 15 orang, tapi ketika dilakukan pengusutan, polisi bilang kasus ini seharusnya masuk ranah perdata bukan pidana. Loh, ini penanganan kasus model apa. Jelas-jelas klien saya itu mengalami kerugian sekitar Rp.100 juta lebih, masa polisi bilang lagi ini ranah perdata, tidak masuk akal namanya,” ungkap Diaz kepada koran ini, Senin (11/1).

Kata dia, bukan hanya itu, penyidik melakukan gelar perkara pun tanpa alat bukti yang valid. Bayangkan, terlapor dalam kasus ini, berjumlah 15 orang,masing-masing, Y.C.I. K, I.TM, M.A.P,AN,P.D.T, K.H.N, M.N.P, M.H, N.BT, C.C, LH, DA dam HT. Akan tetapi, dalam melakukan gelar perkara pada 18 April 2020, sebelumnya penyidik baru mendengar keterangan 3 terlapor ditambah pelapor. “Bayangkan saja, terlapor berjumlah 15 orang, tapi penyidik baru saja periksa 3 orang, kemudian menggelar perkara pada 18 Desember 2020 kemarin. Ini kan tidak jelas, penanganan kasus model apa,” kecam pengacara berkulit hitam itu.

Dia mengatakan, kasus tersebut jelas-jelas masuk ranah pidana, sebab awalnya para terlapor dan pelapor bersama-sama bermain arisan online. Dengan nilai bervariasi yakni paling tinggi Rp.36 juta dan paling rendah Rp. 2 juta. Dan barang yang dimainkan tersebut berupa Mas 5 gram, uang tunai sekitar Rp.10 juta.

Dari kesepakatan dibangun, kliennya menjadi penanggungjawab. Belakang, ketika para-para terlapor sudah mendapat bagian, dan akan dikumpul untuk orang lain yang belum menerima, mereka mulai beralasan yang bukan-bukan. Bahkan tidak pernah membayar arisan sama sekali. Akibat dari itu, kliennya mengeluarkan uang pribadi untuk menutup uang para terlapor kepada orang yang menerima. “Dan setelah itu, belakangan para terlapor tidak lagi menyetor uang kepada pelapor. Bahkan dari jumlah uang yang dipakai untuk menutup arisan para terlapor, kurang lebih Rp.100 juta lebih,” jelasnya.

Seharusnya lanjut dia, polisi sudah menetapkan tersangka dalam kasus ini, karena bukti-bukti pelapor menguat. Hanya saja, tidak tahu bukti apa yang digunakan Polda Maluku untuk menentukan kalau kasus ini masuk ranah perdata.

“Untuk itu, karena polisi mengatakan akan menghentikan kasus ini, jadi dalam waktu dekat, kita akan melakukan upaya hukum lain terhadap laporan ini. Karena terkesan polisi tebang pilih,” pungkasnya. (SAD)

Comment