by

Polemik Permukiman Kumuh Di Rijali

Ambon, BKA- Kelurahan Rijali Kecamatan Sirimau memiliki sebagian daerah permukiman kumuh. Disebut pemukiman kumuh karena kondisi wilayah ini bukan saja padat namun dinilai dari kesehatan, daerah ini memiliki kualitas udara yang kurang bagus. Bisa dilihat bahwa polemik ini sudah berlangsung cukup lama tanpa adanya perubahan menjadi permukiman yang lebih layak dihuni. Sebagai contoh yaitu daerah kelurahan Rijali yang berada dekat dengan pasar Mardika atau lebih dikenal orang dengan lorong tahu. Di daerah ini ada banyak sekali bangunan kost-kostan dan pabrik yang padat.
Dari sudut pandang kesehatan, pemukiman layak dihuni yaitu daerah atau wilayah yang memiliki kualitas udara dan air yang bagus. Untuk mengimbangi lingkungan yang sehat juga perlu ada tanaman dan pepohonan hijau yang berfungsi untuk menghasilkan kadar oksigen yang cukup. Jika dilihat pada kenyataanya, Lorong Tahu belum memenuhi persyaratan pemukiman layak huni. Padatnya bangunan yang ada membuat tidak ada lahan untuk ditanami tanaman hijau. Banyaknya pabrik pembuatan tahu dan tempe yang tidak pandai mengolah limbah akhir, sehingga menambah masalah bagi pemukiman sekitarnya..

Kepala Kelurahan Rijali mengatakan bahwa wilayah kerjanya masuk dalam permukiman kumuh karena adanya beberapa alasan tertentu. Salah satu alasan yaitu sebagian besar warga yang ada di daerah ini adalah pendatang dari berbagai daerah dengan alasan mencari nafkah. Karena mereka pendatang yang hanya menempati bangunan selama beberapa tahun sehingga menolak untuk memperbaiki bangunan yang ditempati. Pemerintah kota dalam hal ini KOTAKU sudah turun tangan untuk mengupayakan perbaikan didaerah ini. Namun karena warga bukanlah pemilik tanah sehingga tidak bisa melakukan perbaikan bangunan.

” Daerah ini memang tergolong dalam daerah pemukiman kumuh. Sebagian warga yang ada disini adalah pendatang dari berbagai daerah sehingga menolak untuk memperbaiki bangunan yang mereka tinggali menjadi lebih layak lagi. Dari KOTAKU sudah melakukan peninjauan langsung kesini namun karena warga bukanlah pemilik tanah sehingga tidak bisa merenovasi. Selain itu karena daerah ini merupakan daerah pinggiran sungai sehingga kita sering menerima sampah dari sungai yang meluap. Bukan saja sampah namun juga genangan air sisa luapan sungai, tapi warga segera membersihkan itu,” tutur Dewi S Kepala Kelurahan Rijali.

Pemukiman layak dihuni itu perlu bagi manusia yang menempatinya. Terutama bagi tumbuh dan perkembangan anak yang ada dilingkungan tersebut. Sebagai manusia kita tidak boleh hanya memperdulikan bahwa aman dalam suatu bangunan. Tapi juga perlu diperhatikan bagaimana kualitas daerah yang ditempati. Rijali merupakan contoh sederatan wilayah pemukiman kumuh di Kota Ambon yang membutuhkan perhatian dinas terkait. Pemukiman juga bisa menjadi salah satu titik ukur penilaian ekonomi sebuah kota. Lingkungan yang bersih dan hijau secara tidak langsung akan menjadikan warga yang berdiam didalamnya menjadi nayam dan sejahtera. (MG-1)

Comment