by

Polisi Disinyalir Salah Penerapan Pasal, Kasus Penganiayaan di Samarusu

Ambon, BKA- Satuan Reskrim Polres Maluku Tengah (Malteng) disinyalir keliru dalam penerapan pasal terkait kasus penganiayaan yang terjadi di negeri Samarusu, Kecamatan Teluk Elpaputih, Kabupaten Maluku Tengah pada 30 Maret 2021 lalu.

Pasalnya, kasus ini seharusnya masuk dalam penganiayaan berat yang dilakukan tersangka Melky Wasuroru, dengan membacok kedua korban masing-masing Salmon Kaihena (59) dan JS (15) yang masih kategori dibawah umur.

“Saat itu tersangka datang tanpa alasan, tiba-tiba langsung membacok ayah saya (korban),Salmon Kaihena, mengenai tangan kiri, punggung dan kepala bagian kiri. Aksi membabi buta itu sontak membuat kaget korban karena saat itu dia sedang mengambil air di Sumur,” ungkap anak korban, Ahustein Kaihena di Pengadilan Negeri Ambon, Jumat (16/4).

Tak hanya disitu, tersangka selesai membacok korban Salmon Kaihena, kemudian pergi membacok korban JS yang sedang mengendarai sepeda motor.
“Tersangka datang tiba-tiba buat korban kaget, sempat korban bilang minta ampun.karena melihat tersangka bawa parang. Akan tetapi, tidak ada rasa prihatin, tersangka langsung memegang rambut korban lalu memotong korban dari leher bagian belakang,” bebernya.

Atas kejadian ini, kedua korban dilarikan ke RS Masohi untuk mendapatkan pertolongan medis. “Namun hingga kini, kondisi luka korban JS terlihat parah sehingga dia belum juga keluar dari rumah sakit dan masih dirawat, sementara korban Salmon Kaihena sudah keluar dari RS , hanya saja bekas lukanya membuat tubuhnya belum kuat bekerja sebagai petani,” imbuhnya.

Ditempat yang sama, Kuasa hukum korban, Yustin Tuny menambahkan, penyidik Satreskrim Polres Malteng seharusnya jelih dalam penyidikan kasus penganiayaan tersebut. Sebab, ini penganiayaan berat. Mana mungkin Polres Malteng menjerat tersangka dengan pasal 351 ayat (1) atau penganiayaan ringan.

“Ini kan polisi tidak bijak dalam penerapan pasal. Bagi saya,tindakan yang dibuat tersangka itu penganiayaan berat, bahkan ini aksi yang dilakukan tersangka bisa dikategorikan tindakan perencanaan. Bahkan, melihat kondisi tubuh korban yang mengalami luka yang cukup serius, mana mungkin Polisi menjerat mereka dengan pasal 351 ayat 1, harusnya pasal 351 ayat (2),” jelas Yustin.

Tidak hanya itu, lanjut dia, berkas perkara ini seharusya juga dipisahkan, tidak bisa polisi menggabungkan menjadi satu berkas perkara. Mengingat tempus dan lokus tidak sama. Selain itu, korban JS masih kategori anak dibawah umur.

“Ini kan tempus dan lokus tidak sama, baru korban JS masih dibawah umumr,tapi polisi gabungkan kedua berkas ini menjadi satu, aturan dari mana ini?. Untuk itu, saya berharap, penyidik Satreskrim Polres Malteng agar sesius dan bijak dalam penyelidikan kasus ini,” katanya.

Kasat Reskrim Polres Malteng, Iptu Dominggus Bakarbessy yang dikonfirmasi mengatakan, benar kalau di dalam SPDP pasal awal yang ditulis 351 ayat 1, sambil menunggu visum dolter untuk memperkuat penetapan pasal terhadap tersangka.

“Jadi itu hanya pasal awal dalam SPDP. Kita saat ini lagi menunggu hasil visum dokter, Untuk memperkuat pasal yang ditetapkan bahwa yang dilakukan tersangka itu adalah tindak pidana berat sebagaimana yang diatur dalam pasal 351 ayat 2 dan 3,” jelasnya.

Ditanya soal permintaan keluarga untuk memisahkan berkas perkara lanjut dia,perkara penganiayaan ini hanya satu tersangka. Dalam lokus dan tempus juga hanya satu hari sehingga tidak mungkin dipisahkan menjadi dua berkas.

“Tidak bisa dua berkas perkara. Ini kan satu tersangka. Baru dalam hari yang sama,” tandasnya.(SAD)

Comment