by

Polisi Keliru Tetapkan Risman Solissa Tersangka

AMBON-BKA, Penyidik Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease dinilai telah melakukan kriminalisasi hukum terhadap Risman Solissa, kader HMI Ambon yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ujaran kebencian.

Praktisi hukum di Maluku, Fileo Pistos Noija, mengatakan, jika ditelusuri, perbuatan yang dilakukan Risman Solissa belum bisa memenuhi unsur pasal melanggar undang-undang ujaran kebencian.

Sebab di dalam postingan di media sosial, Risman Solissa baru menyebut turunkan Presiden, Gubernur Maluku dan Walikota Ambon.

“Coba lihat disitu, kan disitu, yang bersangkutan bilang turunkan beliau-beliau saja dari jabatan. Jadi unsur pidananya terletak disebelah mana? Pendapat pribadi saya sebagai praktisi, saya tidak menerima kalau mereka tetapkan Risman Solissa tersangka. Karena perbuatannya itu tidak sampai masuk dalam perbuatan pidana atau tidak memenuhi,” ujar Noija, Ketika dimintai pendapatanya, Selasa (27/7).

Menurut pengacara senior ini, jika memang Risman Solissa menyebar ujaran kebencian, maka harus ada tindakan kebencian yang disusul dengan penyebaran melalui kata-kata di media sosial.

Baca: Perbaikan Tugu Trikora Mulai Dikerjakan

Artinya, polisi harus melihat, apakah selama ini yang bersangkutan berujar membenci Presiden, Gubernur Maluku dan Walikota Ambon, di media sosial. Jika itu bisa dibuktikan, maka tentunya perbuatannya memenuhi unsur. Tapi kalau hanya sebatas berorasi di depan umum, maka itu hal biasa, karena Indonesia adalah negara demokrasi.

“Saya tidak tahu, polisi mengartikan perbuatan tersangka ini seperti. Tapi bagi saya, polisi keliru dalam menetapkan yang bersangkutan sebagai tersangka,” tandas Noija.

Sementara itu, sejumlah mahasiswa gabungan beberapa perguruan tinggi menggelar demo di depan Gong Perdamaian, Kota Ambon, menyikapi masalah tersebut, Selasa (27/7).

Puluhan mahasiswa itu menggelar aksi bungkam, dengan membawa pamflet yang bertuliskan “Bebaskan Kawan Kami Risman Solissa. Dia Bukan Teroris dan koruptor”.

Koordinator aksi tersebut, Hijrah, mengatakan, aksi bungkam yang dilakukan itu untuk merespon terbungkamnya demokrasi di negeri ini. Karena, rekan mereka Risman Solissa yang menyampaikan pendapat, malah dikriminalisasi dan di tahan oleh Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease.

Menurut Hijrah, Risman Solissa tidak bersalah. Ia merupakan kader HMI Unpatti yang saat ini sedang menyuarakan aspirasi masyarakat, terkait dengan keresahan masyarakat Kota Ambon yang terdampak PPKM skala Mikro.

“Pada prinsipnya, aksi kita di hari ini hanya aksi bungkam terkait dengan terbungkamnya demokrasi di negeri ini. Kami juga meminta agar polisi bebaskan kawan kami, Risman Solissa, yang sedang di tahan di Rutan Polresta Ambon. Kawan kami bukan melakukan ujaran kebencian. Ia hanya menyuarakan keresahan masyarakat terdampak PPKM berbasis Mikro di Kota Ambon. Jadi sekali lagi, apa yang dilakukan kawan kami itu tidak sama sekali menyangkut ujaran kebencian,” tandas Hijrah.

Sebelumnya, Risman Solissa ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana ujaran kebencian di media sosial (medos), oleh penyidik Satreskrim Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, Senin (26/7).

Penetapan tersangka terhadap kader HMI Cabang Ambon ini karena menyebar informasi, yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), serta mendistribusikan informasi yang diakses melalui informasi elektronik yang bermuat penghinaan atau pencemaran nama baik, sebagaimana diatur dalam pasal 45A Ayat (2) dan atau Pasal 45 ayat (3) UU No 19 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau Pasal 14 ayat (2) UU No 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Kasi Humas Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, Ipda Izack Leatemia, mengatakan, setelah pelaku Risman Solissa di tahan polisi, Minggu (25/7), tepatnya di pertigaan bundaran monument patung Dr. J. Leimena, pelaku kemudian digiring ke Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, untuk menjalani pemeriksaan terkait dengan tindak pidana ujaran kebencian yang ia lakukan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, kata Leatemia, karena telah memenuhi dua unsur, sehingga pelaku langsung ditetapkan sebagai tersangka.

Baca: Seleksi Kepsek Ambon Ditunda

“Kini tersangka terancam penjara selama 6 tahun. Saat ini juga, pelaku sudah di amankan di Rutan Polresta Ambon,” ujar Leatemia, di ruang kerjanya, Senin (26/7).

Menurut juru bicara Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease itu, modus operandi yang dilakukan tersangka, yakni, melalui akun facebook-nya memposting tulisan beserta dua gambar atau foto tercantum tulisan yang memuat ujaran kebencian, penghinaan/ pencemaran nama baik atau berita bohong.

“Penyidik saat ini sudah menahan yang bersangkutan, untuk kepentingan penyidikan kasus ini ke depan,” tandasnya.(SAD)

Baca juga: Inkado Aru Sabet 13 Medali Emas

Comment