by

Polisi Lengkapi Berkas Tersangka Pornografi

Ambon, BKA- Tim penyidik Dir Krimsus Polda Maluku, mulai merampungkan berkas perkara Hermanto Hermanus Groda, tersangka kasus pornografi dengan menyebarkan foto bugil lima korban di Media sosial.

“Kita saat ini rampungkan berkas dulu. Setelah itu baru kita lakukan tahap I ke Jaksa,” ungkap Direskrimsus Polda Maluku, Kombes Pol. Eko Santoso, Minggu kemarin.

Kata dia, berkas perkara ini sudah dilakukan pemeriksaan saksi-saksi sejumlah pihak. Sehingga dipastikan berkas tersebut sudah dinyatakan lengkap untuk di tahap I.

“Tapi kalau sudah tahap I baru kita infokan lagi,” pungkasnya.
Sebelumnya, akibat menyebarkan foto bugil korban melalui media sosial, Hermanto Hermanus Groda akhirnya diciduk personel Ditrsekrimsus Polda Maluku di Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Direskrimsus Polda Maluku, Kombes Pol. Eko Santoso kepada wartawan mengatakan, Hermanto pria 30 tahun asal Flores Adonara melakukan aksinya begitu mulus dan unik. Lantaran dirinya berhasil mengelabui lima wanita asal Ambon yang baru dikenalnya lewat medsos untuk mengirim foto bugil para korban.

Kemudian foto bugil tersebut digunakan tersangka sebagai senjata untuk mengancam korbannya.

Dari lima korban tersebut, dua berstatus Mahasiswa dan tiga lainnya sementara tiga lainnya bukan mahasiswa.

“Tersangka melaksanakan aksi lewat FB miliknya, posisi tersangka di NTT sementara para korban ini warga Ambon. Modusnya adalah dengan melakukan chat bersama para korban melalui akun massanger facebook miliknya, kemudian tersangka menjanjikan akan berikan sejumlah uang apabila korban membuat dan mengirim foto maupun video asusila/pornografi sesuai yang dingiinginkan oleh tersangka,” jelas Santoso di Mako Ditreskrimsus Polda Mlauku di kawasan Mangga Dua, Selasa (24/11).

Tak puas hanya meminta foto bugil korban, tersangka juga meminta para korbannya untuk mencari lawan untuk berhubungan intim, kemudian merekam aksi tersebut yang selanjutnya video asusila para korban dikirim kepada tersangka kemudian meminta para korbannya untuk memberikan hak akses ke akun facebook pelapor untuk diambil alih atau membajak akun korban dan digunakan sebagai testimony untuk mengelabui dan meyakinkan korban selanjutnya.
“Jadi tersangka mendapat video dan foto yang dia mau, tersangka bajak akun korban digunakan untuk menunjukkan seolah-olah akun korban telah dikirimi sejumlah uang karena telah mengirim foto maupun video tersebut seolah-olah percakapan maupun bukti transfer pada akun massanger facebook para korban,” ujarnya.

Perwira menengah Polri dengan tiga bunga melati di pundak itu mengaku, aksi biadap korban itu sudah berlangsung lama. Dan diketahui setellah para korban melaporkan hal tersebut ke kantor Ditreskrimsus Polda Maluku. Ketika menerima laporan, personil cyber crime melakukan penyelidikan dan mendapati posisi terakhir tersangka berada di NTT.
Selanjutnya tim berkoordinasi dengan Polres Flores Timur dan menuju ke NTT untuk lakukan penangkapan, dan pada Selasa (17/11) tersangka berhasil dibekuk di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Provinsi NTT.

“Kegitan penangkapan didasari adanya dua laporan polisi yang melaporkan akun FB Shahab Arash Malik dengan lima saksi korban. Selanjutnya Ditreskrimsus bentuk tim untuk melakukan penyelidikan dan profiling terhadap akun facebook tersebut dan ditemukan tersangka berada di RT 004/002, Desa Kiwangona, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, provinsi NTT, kemudian penangkapan dilaksanakan pada hari, Selasa (17/11) dengan diback up oleh Kasat Reskrim Polres Flores Timur,” bebernya.

Atas perbuatannya, tersangka di jerat dengan Undang-Undang Pornografi dan/atau bidang ITE sebagaimana dimaksud dalam pasal 29 Jo pasal 4 ayat (1) huruf d dan UU RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 250 juta dan paling banyak Rp 6 miliar dan atau pasal 45 ayat (1) UU RI No. 19 tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dengan ancaman hukuman penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar (SAD)

Comment