by

Polisi Penganiaya Warga Romang Tetap Diproses

Ambon, BKA- Laporan pengaduan yang dimasukan pelapor sekaligus korban dalam perkara penganiayaan yang dilakukan dua oknum Anggota Polsek Kecamatan Pp Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), mulai direspon Kapolres Maluku Barat Daya (MBD), AKBP Budi Adhy Buono.

Buono mengatakan, dirinya sudah menerima surat masuk dari Polda Maluku terkait surat pengaduan yang dilakukan korban di Mapolda Maluku, beberapa hari lalu. Dengan demikian, dirinya berjanji akan menindak tegas kedua oknum Polisi tersebut, jika terbukti melakukan penganiayaan terhadap masyarakat.

Menurutnya, sebagai pimpinan, dirinya tetap bersikap profesional dalam penanganan kasus itu, agar tidak terkesan Polisi melindungi oknum anggota yang melakukan kesalaham dan sewenang-wenang di tengah masyarakat.

“Saya akan lakukan pemeriksaan secara profesional, yakni, akan memeriksa saksi-saksi, korban dan kedua oknum Anggota Polsek Kisar itu secara bersama-sama,” ungkap Buono, saat dihubungi melalui selulernya, Selasa (1/9).

Perwira Menengah dengan dua bunga melati di pundak itu mengaku, jika dalam proses penyelidikan berjalan, dirinya menemukan bukti yang cukup mengarah kepada perbuatan hukum, maka kedua oknum Polisi tersebut akan ditindak tegas, sesuai dengan aturan perundang-undang yang berlaku. “Kita pasti proses sesuai dengan undang-undang yang berlaku, jika ditemukan ada unsur tindak pidana disitu,” jelasnya.

Terkait kapan agenda pemeriksaan dilakukan terhadap kedua oknum Polisi itu, kata Buono, dirinya akan melayangkan pemanggilan secara resmi. Selain kepada dua anggota yang melakukan pemukulan, surat pemanggilan juga akan diberikan kepada korban.

“Surat akan kita proses hari ini (kemarin, red-). Kalau untuk korban, sedang di Pulau Romang. Jadi mungkin kita hubungi melalui sambungan seluler terlebih dahulu,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan koran ini, dua oknum Angoota Polisi berdinas di Polsek Kisar, Kecamatan Pp Terselatan, yakni, Briptu Daniel Mehen dan Viktor Sampe, dilaporkan melakukan penganiayaan terhadap korban Julius Enos Corneles , yang merupakan warga Desa Jerusu, Kecamatan Pulau Romang, pada 28 Juli 2020.

Saat itu, korban hendak ke Polsek untuk menanyakan perkembangan penyidikan kasus penganiayaan yang menimpa ponakannya, Julius Daniel Frans dan Dandoto Al Frans.

Tak tahu mengapa, saat korban dipersilakan masuk, kedua oknum Anggota Polisi itu meladeni korban dengan perlakuan yang tidak baik. Korban bahkan diancam, hingga akhirnya dipukul oleh Briptu Daniel Mehen sampai berdarah pada bagian mulutnya.

“Waktu itu saya ke sana dengan maksud baik-baik. Tapi Polisi bilang, saya perhambat proses penyelidikan. Tapi karena saya tidak paham dengan maksud dan nada kasar yang disampaikan mereka, makanya saya kembali tanya. Eh, dia malah mengeluarkan kata-kata kotor kepada saya, padahal dia itu pelindung masyarakat,” kesal Julius Enos Corneles, didampingi kuasa hukumnya, Izack Frans dan Rey Ronald Sahetapy, di Ambon, akhir pekan kemarin.

Julius mengaku, kasus yang ditangani Polsek Kisar adalah kejadian yang terjadi di desanya di Pulau Romang. Dan karena ponakannya yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus itu, sehingga dirinya diutus pihak keluarga untuk mendatangi Mapolsek Kisar untuk menanyakan perkembangan pengusutan kasusnya.

“Kedatangan saya ke Polsek kan ada dua tujuan. Pertama, soal laporan pengaduan terkait pelecehan seksual dan kasus penganiayaan yang menimpa ponakan saya. Tapi saya tidak dilayani dengan baik, malah dianiaya Polisi. Saya dipukul oleh Briptu Daniel Mehen dari pinggang belakang, belakang kepala, terakhir bagian mulut. Itu langsung mulut saya pecah dan berdarah,” beber korban, seraya mengeluarkan bukti hasil visum dari medis.(SAD).

 

 

Comment