by

Polres Bentuk Tim Usut Prostitusi Online

Ambon, BKA- Polres Kepulauan Aru akan membentuk tim untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus prostitusi online, yang terjadi di kabupaten itu.

Tim itu dibentuk setelah menerima laporan dari TB (14) yang diduga korban dari kasus itu, bersama tim kuasa hukumnya, Fidel Angwarmasse, Yohanis Romodi Ngurmetan dan Hendra Jamlaay, beberapa waktu lalu.

Terkait hal itu, Kapolres Kepulauan Aru, AKBP Eko Budiarto, mengatakan, akan menseriusi laporan itu dengan membentuk tim untuk mengusut laporan itu.

“Setelah Korban melapor kita kan bentuk tim. Jadi bersabar, dan percayakan kepada kami untuk menangani kasus ini,” tandas Kapolres, Sabtu (31/10).

Kasat Reskrim Polres Kepulauan Aru, AKP Galu, menambahkan, tim itu akan segera dibentuk. Namun pihaknya akan kembali melihat motif kasus dugaan prostitusi online tersebut. Sebab kepolisian dalam berkerja, selalu mengedepankan asas praduga tak bersalah dan asas sebab akibat.

“Kita akan bentuk tim untuk kasus ini. Kita akan kedepankan asas praduga tak bersalah dan asas sebab akibat. Sehingga kita bisa tahu motiv kasus dugaan prostitusi ini dengan jelas,” ujarnya.

Untuk itu, dia berharap agar korban maupun pihak keluarga dan masyarakat Aru, agar tetap tenang. Percayakan penangan kasus dugaan prostitusi online dengan motif penjualan anak dibawa umur tersebut kepada pikanya. Sehingga siapa-siapa yang diduga sebagai pelaku dan korban, bisa terungkap dangan jelas.

“Saya harap semua tenang dan percayakan kasus ini kepada kami. Kami akan bekerja profesional. Jadi mari bantu kami untuk ungkap kasus ini ya,” harapnya.

Sebelumnya, TB (14) didampingi tim kuasa hukumnya, Fidel Angwarmasse, Yohanis Romodi Ngurmetan dan Hendra Jamlaay, mendatangi Mapolres Kepulauan Aru untuk mengecek perkembangan kasus yang menimpa klien mereka.

Setelah melapor di KTSP Mapolres Kepulauan Aru, korban dan tim kuasa hukumnya menuju ruang Reskrim untuk membuat laporan polisi (LP) terhadap kasus prostitusi online, dengan motif perdagangan anak dibawa umur yang dialami klien mereka.

Usai membuat LP, Ketua Tim Kuasa Hukum TB, Fidel Angwarmasse, mengatakan, pihaknya akan tetap mengawal kasus tersebut sampai tuntas. Karena sesuai analisa tim hukum, pratek prostitusi online yang menimpa kliennya sudah berlangsung lama.

“Kami komitmen untuk kawal kasus prostitusi ini sampai selesai. Karena kuat dugaan, kasus ini sudah berjalan lama. Dan pasti sudah ada korban lain, selain klien kami,” katanya.

Lebih lanjut, ungkapnya, sesuai hasil chatting antara korban (TB) dan terduga pelakum, MS, lewat Short Message Service (SMS), nampak bahwa pelaku merupakan pemain lama. Karena ada kalimat yang mengatakan, dia (pelaku) sudah sering mengantar beberapa korban untuk menemui seseorang yang diduga merupakan pria-pria hidung belang.

“Jadi pelaku ini pemain lama. Dia sudah sering melakukan hal ini. Hal itu terlihat jelas di chattingan antara korban dan pelaku,” terangnya.

Selain chatting lewat (SMS), kata dia, ada beberapa bukti kuat yang pihaknya peroleh, bahwa pelaku MS ini pemain lama. Sehingga dia meminta Polres Kepulauan Aru serius mengusut dugaan kasus prostitusi terselubung itu.

Kalau tidak, terangnya, maka generasi muda Kabupaten Aru akan menjadi korban. “Kita minta Polres usut kasus prostitusi ini tuntas, tanpa tebang pilih. Dan pelakunya segera diamankan. Kalau tidak, maka akan ada korban-korban berikutnya,” pintanya.

Untuk diketahui, paman Korban, Iwan Nagwaem, mengungkapkan kronologis kejadian itu hingga pelaporan ke Mapolres Kepulauan Aru.

Pelaku MS dan Korban merupakan tetangga sekompleks di Kilo menuju tempat Wisata Belakang Wamar, Kota Dobo. MS awalnya mengajak Korban TB yang masih dibawah umur melalui pesan SMS maupun telepon. Jika korban bersedia melayani keinginan pria hidung belang langganan pelaku, maka bayarannya bisa mencapai 2 sampai 3 juta rupiah.

Namun ajakan si pelaku itu tidak mendapat respon postif dari korban. Dia menolak semua tawaran pelaku, walaupun dengan bayaran sebesar apapun.

”Iya, jadi dia ajak ade perempuan, kalau ade mau, berarti bayarannya 2 sampai 3 juta. Cuma ade bilang ke dia (pelaku), bahwa jangankan 3 juta, 10 juta pun ade tetap tidak mau,” ungkap Iwan.

Kendati demikian, pelaku memang rupanya sudah berniat, sehingga walaupun tawarannya itu selalu ditolak oleh Korban, tapi pelaku tetap melancarkan rayuan dan bujukan. Hingga akhirnya korban yang tidak terima, kemudian melaporkan hal ini kepada keluarga, yang diteruskan ke rana hukum.(WAL)

Comment