by

Polres Jerat 24 tersangka Kasus Tudingan Santet di SBB

Ambon, BKA- Kapolres Seram Bagian Barat (SBB), AKBP Bayu Tarida Butar Butar, didampingi Kasat Reskrim Polres SBB, Iptu Pieter Matahelumual, resmi menetapkan 24 orang tersangka dalam kasus tudingan ilmu santet di Desa Lahiatala, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten SBB.

24 tersangka itu merupakan pelaku pengancaman, pengrusakan dan pembakaran, terhadap korban yang dituding menggunakan ilmu santet, yakni, Piter Touwely, Godlief Sardely, Suzana Nikolebu.

Para tersangka itu, yakni, dua tersangka untuk pengrusakan rumah milik Suzana Nikolebu, yakni, tersangka CT dan RT.

Sedangkan untuk kasus pembakaran rumah milik korban Piter Touwely, terdapat delapan tersangka, yakni, tersangka BR, GKR, AS, YAT, ST, BT, PN, PM.

Sementara untuk kasus pengrusakan dan pembakaran rumah milik korban Godlief Sardely, dilakukan 14 orang tersangka, yakni, tersangka PT, CT, FR, FN, YL, PK, MM, RT, DM, AS, YAT (anak), AL( anak), GM (anak), YM (anak).

Kapolres SBB, AKBP Bayu Tarida Butar Butar, dalam rilisnya yang diterima BeritaKota Ambon, mengungkapkan, kasus dengan tiga jenis tindak pidana tersebut berawal pada 10 September 2020 lalu.

Awalnya, saksi Riki Nikolebu yang merupakan salah satu warga Desa Lohiatala, mengalami kerasukan. Kemudian dilakukan pelayan secara rohani oleh ibu pendeta.

Dalam pelayanan itu, diduga saksi kerasukan akibat terserang ilmu hitam atau santet yang dilakukan oleh Suzana Nikolebu.

“Warga yang menyaksikan pelayanan tersebut marah, kemudian mendatangi rumah korban Suzana Nikolebu, dengan berencana akan membacok yang berangkutan. Namun pada saat ke rumah korban, mereka tidak menemukan korban,” jelas Kapolres, Selasa (27/10).

Selanjutnya pada 12 September 2020, terjadi kembali perisitiwa yang sama, dengan saksi yang sama, yakni, Riki Nikolebu.

“Jadi setelah dilakukan pelayanan rohani untuk kedua kalinya, saksi menyebut nama-nama korban yang diduga menyerang dia dengan ilmu hitam, yakni, korban Piter Touwely, Godlief Sardely, Suzana Nikolebu.

Kemudian para tersangka berbondong-bondong datang ke rumah-rumah korban untuk melakukan pengrusakan, pengancaman dan pembakaran,” jelas perwira Polri dengan dua bunga melati di pundak itu.

Masing-masing tersangka tindak pidana pengrusakan dijerat dengan pasal 170 ayat (1), jo pasal 406 KUHP, jo Pasal 55 KUHP, dengan ancaman hukuman 5 tahun.

Tindak pidana pembakaran dijerat dengan pasal 187 KUHP, 170 KUHP, jo pasal 406 KUHP, jo pasal 55 KUHP, dengan ancaman hukuman 12 tahun.
Sedangkan untuk tindak pidana pengancaman dengan senjata tajam, dikenakan pasal 335 KUHP, jo pasal 2 ayat UU Darurat No. 12 tahun 1951, dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.

“Jadi sekali lagi, total tersangka ada 24 orang. Sementara 20 tersangka sudah ditahan, sedangkan 4 tersangka masih di bawah umur, sehingga tidak ditahan. Dan dari hasil penyidikan, diduga ada 5 orang yang merupakan aktor utama dari kejadian tersebut, yaitu, tersangka JN, CT, RT, FR, dan PT. Sedangkan untuk 4 tersangka anak dibawah umur tersebut, mereka akan dilakukan diversi berdasarkan UU Sistim Peradilan Anak,” terangnya.

Orang nomor satu di Polres SBB itu menambahkan, langkah-langkah yang sudah diambil untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, yakni, Polres SBB telah memerintahkan Kapolsek Kairatu Barat agar secara intensif memberikan himbauan kepada warga, agar tidak terprovokasi dan menghormati proses hukum yang sementara dilakukan oleh Sat Reskrim Polres SBB.

“Saya perlu katakan, bahwa kami akan tindak tegas kasus ini secara profesional, transparan, dan akuntabel. Dan direncanakan, minggu depan, berkas perkara kasus ini akan dilimpahkan berkas Tahap I ke JPU Kejari SBB untuk diteliti,” pungkasnya.
(SAD).

Comment