by

Polres SBB Tahap II Kasus Tudingan Santet

Ambon, BKA- Satuan Reserse dan Kriminal (Sat Reskrim) Polres Seram Bagian Barat (SBB) melakukan tahap II atas kasus tudingan santet yang menyeret 24 tersangka ini ke JPU Kejari SBB, Selasa (8/12).

Dalam tahap II yang dilakukan, penyidik menyerahkan berkas perkara dan juga 20 tersangka, sementara 4 tersangka tidak di tahan karena masih dibawah umur.

“Dari total 24 tersangka, kita hanya serahkan 20 tersangka, karena 4 orang masih dibawah umur sehingga tidak ditahan, mereka diserahkan bersama-sama dengan barang bukti yang diamankan penyidik,” ungkap Kasat Reskrim Polres SBB, Iptu Pieter Matahelumual kepada koran ini, Selasa kemarin.

Sebelumnya Kapolres Seram Bagian Barat (SBB),AKBP. Bayu Tarida Butar Butar didampingi Kasat Reskrim Polres SBB, Iptu Pieter Matahelumual, resmi menetapkan 24 orang tersangka dalam kasus pengancaman, pengrusakan dan pembakaran di Desa Lahiatala, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten SBB.

Mereka adalah, CT dan RT, yang di jerat dalam kasus pengrusakan rumah milik Suzana Nikolebu warga Desa Lohiatala. Sedangkan untuk kasus pembakaran rumah milik korban Piter Touwely tersangka sebanyak delapan orang yakni, BR, GKR, AS, YAT, ST, BT, PN, PM. Sementara untuk kasus pengrusakan dan pembakaran rumah milik korban Godlief Sardely, dilakukan 14 orang tersangka, yakni, PT, CT, FR, FN, YL, PK, MM, RT, DM, AS, YAT (anak), AL( anak), GM (anak), YM (anak).

Kapolres SBB, AKBP, Bayu Tarida Butar Butar dalam rilis yang diterima koran ini mengatakan, kasus dengan tiga jenis tindak pidana tersebut berawal pada 10 September 2020 lalu, awalnya, saksi Riki Nikolebu salah satu warga di Desa Lohiatala mengalami kerasukan, kemudian dilakukan pelayan secara rohani oleh ibu pendeta. Dalam pelayanan itu, diduga saksi kerasukan setan akibat terserang ilmu hitam dari korban Suzana Nikolebu.

“Warga yang menyaksikan pelayanan tersebut, marah, kemudian mendatangi rumah korban Suzana Nikolebu dengan berencana akan membacok yang berangkutan namun pada saat ke rumah korban, dia tidak ada,” jelas Kapolres, Selasa (27/10).

Kapolres mengaku, selanjutnya, pada 12 September 2020, terjadi kembali perisitiwa yang sama, dengan saksi yang sama yakni Riki Nikolebu.

“Jadi setelah dilakukan pelayanan rohani untuk kedua kalinya, saksi menyebut nama-nama korban yang diduga menyerang dia dengan ilmu hitam, yakni korban Piter Touwely, Godlief Sardely, Suzana Nikolebu. Kemudian para tersangka berbondong-bonding datang ke rumah-rumah korban untuk melakukan pengrusakan, pengancaman dan pembakaran rumah ,” jelas perwira Polri dengan dua bunga melati di pundak itu.
Pasal yang dijerat masing-masing, tambah dia, tindak pidana pengrusakan dikenakan pasal 170 ayat (1) jo pasal 406 KUHP jo Pasal 55 KUHP ancaman hukuman 5 tahun. Tindak pidana pembakaran dikenakan pasal 187 KUHP, 170 KUHP jo pasal 406 KUHP jo pasal 55 KUHP ancaman hukuman 12 tahun.
Dan tindak pidana pengancaman dengan senjata tajam dikenakan pasal 335 KUHP jo pasal 2 ayat UU Darurat No. 12 tahun 1951 ancaman hukuman dengan hukum 12 tahun penjara.
“Jadi sekali lagi total tersangka ada 24 orang. Sementara 20 tersangka sudah ditahan, sedangkan 4 tersangka masih diawah umur, sehingga tidak ditahan. Dan dari hasil penyidikan, diduga ada 5 orang yang merupakan aktor utama dari kejadian tersebut, yaitu JN, CT, RT, FR, dan PT. Sedangkan untuk 4 tersangka anak dibawah umur tersebut, mereka akan dilakukan Diversi berdasarkan UU Sistim Peradilan Anak,” pungkasnya. (SAD)

Comment