by

PPJ Sulit Bentuk Karakter Siswa

Ambon, BKA- Guru SD Inpres 28 Nania, Rosni Salim, mengungkapkan, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dilakukan saat ini, sulit membentuk karakter siswa.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi itu, diantaranya, minimnya kepedulian orangtua, ruang belajar mengajar yang terbatas karena fasilitas PJJ tidak mendukung, serta faktor kedekatan antara siswa dengan guru.

“Itu yang menurut saya, menjadi pengaruh sulitnya membentuk karakter siswa. Bahwa memang membentuk karakter anak lewat Daring ini sangat sulit, apa lagi kalau orangtua tidak mendukung. Bersyukur kalau orangtua yang maksimal dalam mendukung anaknya ketika belajar, supaya bisa mengarahkan anak-anak. Tapi kalau tidak, maka yang terjadi adalah terkadang kita lagi tatap muka secara online, tiba-tiba siswa tidak ada lagi. Tidak tahu kemana,” ungkap Rosni, Kamis (24/9).

Dia mengaku, PJJ atau Belajar Dari Rumah (BDR) yang dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 ini sangat memberikan dampak yang besar, bagi pertumbuhan karakter anak-anak didik.

Untuk itu, katanya, jika tidak diperhatikan dengan baik oleh sekolah, khusus orangtua, tentu akan semakin sulit untuk membentuk karakter anak di kemudian hari.

“Memang belajar online ini dampaknya paling besar sekali. Bahwa karena Covid-19, kita sebagai guru justru tidak begitu kenal dengan anak-anak yang baru masuk sekolah pada tahun ajaran ini. Ini jujur harus disampaikan. Kita mau menumbuhkan karakternya bagaimana, kalau mengenal mereka saja butuh waktu. Sebab sekolah sudah memiliki jadwal sendiri. Dimana dalam 1 Minggu, itu kita tatap muka 1 kali menggunakan aplikasi zoom. Karena waktu tatap muka yang terbatas, maka wajar saja kalau guru tidak terlalu kenal. Apalagi mau membangun kedekatan dengan mereka,” bebernya.

Tidak hanya itu, PJJ juga memanjakan siswa dalam setiap proses belajar. Hal itu menyebabkan guru tidak begitu meyakini dengan kualitas siswa selama BDR.

“Tugas-tugas yang diberikan itu apakah memang benar anak yang buat atau kakaknya atau orangtua yang membantu. Sebagai guru, kita juga ragu. Sehingga biasa mereka kirim hasil itu, kadang saya balik nanya, apakah kamu yang membuat atau orangtua. Saya minta buat videonya, agar bisa tahu, apakah benar mereka mampu kerjakan tugas atau sudah bisa baca lancar dan sebagainya. Saya juga belum yakin, kalau secara keseluruhan siswa sudah bisa baca dengan baik dan benar. Sebab saat kunjungan rumah, kita temui ada yang sudah lancar, tapi ada juga yang belum begitu bagus. Untuk hal-hal mendasar itu saja masih sulit, apalagi mau membina karakter mereka lewat Daring. Sangat sulit sekali,” pungkasnya. (LAM)

Comment