by

Praktisi Minta Kejati Tuntaskan Korupsi Repo

Ambon, BKA- Praktisi hukum di Maluku, Marten Fordatkosu, meminta aparat Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku secepatnya menuntaskan kasus Repo Obligasi Bank Maluku.

Pasalnya, kasus yang menyeret dua tersangka masing-masing, mantan Dirut Bank Maluku, Idris Rolobessy dan mantan Direktur Kepatuhan Bank Maluku, Izaac Thenu, sudah bergulir sekian lama di meja Kejati Maluku.

Bahkan saat ini, hasil audit nilai kerugian keuangan negara pada kasus itu sudah diserahkan BPKP Perwakilan Maluku-Malut ke penyidik Kejati Maluku pada Desember 2020 lalu.

“Sebagai praktisi hukum, kita tetap mendukung proses penegakan hukum yang dilakukan Kejati Maluku. Namun yang jelas, kita juga minta agar pengusutan kasus di lembaga Korps Adyaksa itu secepatnya dilakukan. Terutama kasus Repo Bank Maluku yang menyita perhatian masyarakat Maluku,” ungkap Marten, Senin (4/1).

Menurutnya, setiap proses penanganan kasus korupsi, baik itu kasus ADD maupun kasus dugaan korupsi proyek multiyers yang memakan uang rakyat puluhan miliar rupiah, harus mendapat atensi dari penegak hukum.

Tujuannya, untuk melakukan penyelidikan demi menyelamatkan uang negara yang hilang, sekalihus menjerat para pelaku korup tersebut.

“Jadi bagi saya, kasus Repo itu kan sudah bergulir begitu lama. Makanya, Kajati harus punya perhatian yang serius terhadap kasus itu. Kasihan, rakyat sedang menanti sejauh mana kasus ini. Tapi sampai kini, belum-belum jalan lagi. Saya minta agar kasus ini segera disidangkan,” pungkasnya.

Kasi Penkum Kejati Maluku, Samy Sapulette, yang dikonfirmasi terkait hal itu, mengatakan, untuk penanganan kasus Repo Obligasi Bank Maluku, penyidik Kejati Maluku akan melakukan ekspos terkait hasil kerugian keuangan negara dalam perkara ini.

“Untuk kasus Repo, Kejati akan ekspos berapa hasil kerugian negaranya. Hal ini dilakukan demi mempercepat penuntasan penyidikan perkara tersebut,” tandasnya.

Dalam perkara ini, Kejati Maluku menetakan mantan Dirut Bank Maluku, Idris Rolobessy, dan mantan Direktur Kepatuhan Bank Maluku, Izaac Thenu, sebagai tersangka.

Penetapan Idris sebagai tersangka dituangkan dalam surat Nomor: B-329/S.1/fd.1/02/2018 tanggal 21 Februari 2018. Sedangkan Thenu sesuai surat penetapan Nomor: B-330/S.1/fd.1/02/2018 tanggal 21 Februari 2018, yang ditandatangani oleh Kepala Kejati Maluku saat itu, Manumpak Pane.

Keduanya disangkakan melanggar pasal 2 ayat (1) atau pasal 3 jo pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999 jo UU Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat (1) KUHP. (SAD)

Comment