by

Produksi Rumput Laut KKT Terkendala Pengembangan

Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) merupakan salah satu daerah penghasil rumput laut di Maluku. Namun sayangnya produksi yang melimpah setiap tahun, belum ditunjang dari sisi pengembangan.

Untuk itu, Dinas Perikanan dan Kelautan KKT berharap, ada intervensi dari Pemerintah Provinsi Maluku maupun pemerintah pusat, untuk melibatkan pihak swasta atau coorporate, guna pengembangan produksi rumput laut.

“Selama ini hasil produksi dikirim ke Surabaya-Korea Selatan. Kami mengiginkan lewat produksi yang terus meningkat, ada intervensi dari pihak-pihak tertentu maupun swasta bisa berinvestasi di KKT. Sehingga ada pabrik untuk pengembangan rumput laut,” harap Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan KKT, Frederick Junus Batlayeri, diruang kerjanya, kemarin.

Menurutnya, produksi rumput laut di KKT saat ini mencapai 500 hingga 600 ton per pasca panen. Berasal dari beberapa sentral produksi terbesar, diantaranya, Larat 180 ton per pasca panen, Selaru 90 hingga 120 ton per pasca panen, Wermaktian 100 hingga 130 ton, dan Yamdena.

“Saat ini, pengembangannya bersifat keterlibatan masyarakat secara aktif produksi per tahun diatass 500 ton per pasca panen rumput laut katoni. Itu kretaivitas masyarakat dengan standar sendiri. Tetapi kalau ada dukungan dari pemerintah secara utuh, maka kita akan mencapai target per pasca panen 1000 ton,” tuturnya.

Terkait hal itu, dia mengaku, sudah bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Maluku untuk pengembangan 9 kebun bibit rumput laut (KBRL), yang akan dibagi berdasarkan potensi dan wilayah penyebaran rumput laut.

Selain itu, sebagai daerah penyangga Lumbung Ikan Nasional (LIN), kata Batleyeri, KKT telah ditetapan sebagai kampung rumput laut. Sehingga mereka telah menyiapkan 1000 hektar, dengan jumlah tenaga angkatan kerja per rumah tangga mencapai 2500. Dimana penyerapan anggaran infrastruktur, fasilitas dasar, diperkirakan mencapai Rp 200 miliar.

“Itu berdasarkan hasil pembicaraan bersama Kemenko Kemaritiman dan Investasi dan Kementerian Kelautan Perikanan untuk perencanaan di tahun 2022,” ungkap Batlayery.

Diutarakan, lahan yang baru dingunakan untuk budidaya rumput laut di KKT, baru mencapai 9 ribu hektar, dari total 22 ribu hektar. “Ini tentu membuktikan ketersediaan lahan di bumi duan lolat ini masih sangat luas untuk pengembangan,” pungkasnya. (BTA)

Comment