by

Proyek Jalan Gaimar-Jelia Terbengkalai

Ambon, BKA- Proyek jalan penghubung Desa Gaimar-Jelia di Kecamatan Aru Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru, yang dikerjakan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Dinas PU Kabupaten Kepulauan Aru tahun anggaran 2016 senilai Rp 900.000.000, diduga sarat rekayasa. Alhasil, proyek itu pun terbengkalai.

Terbengkalainya proyek jalan itu tentu saja mengundang tanya di tengah masyarakat maupun legislatif di kabupaten bertajuk “Jargaria/Sarkwarisa” itu, karena anggaran yang sudah dicairkan mencapai 70 persen atau senilai Rp 630.000.000, dari total anggaran proyek itu.

Terkait hal itu, Ketua Yayasan Jargaria, Thomas Benamem, mengatakan, kalau pekerjaan jalan tersebut tidak dikerjakan, tetapi dananya sudah dicairkan 70 persen, maka itu tindak kejahatan yang harus diusut oleh aparat hukum.

“Saya tidak mau berasumsi banyak. Kalau jalan itu tidak dikerjakan dan dananya dicairkan 70 persen, maka ini kejahatan yang mesti ditangani secara serius oleh aparat hukum di daerah ini. Jika tidak, maka kepentingan rakyat Aru akan terus tersandra oleh kepentingan mafia proyek di daerah ini,” tandasnya, Senin (3/8).

Sebelumnya, terhadap pekerjaan jalan penghubung Desa Gaimar-Jelia di Kecamatan Aru Selatan itu mendapat perhatian serius dari empat Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Aru dari Fraksi Gerindra, yakni, Seri Angker, Reimon Gandakary, Andreas Liembers dan Elon Dumgair.

Mereka berempat pada gustus 2018 lalu, pada paripurna pembahasan terhadap rencana peraturan daerah tentang pertanggungjawaban APBD Aru tahun anggaran 2017, merekomendasikan kepada Bupati Kepulauan Aru agar proyek itu diusut oleh penegak hukum.

Sayangnya, hingga Ranperda APBD Aru Tahun Anggaran 2017 itu ditetapkan menjadi Perda pada 27 Agustus 2018 hingga sekarang, rekomendasi empat wakil rakyat itu tidak digubris oleh Bupati Aru, Johan Gonga.

Sementara itu, Pimpinan Cabang PT Jakarta Baru, Salim Piere selaku kontraktor pelaksana pekerjaan itu pada maret 2019 lalu, membantah kalau proyek jalan penghubung Desa Gaimar-Jelia tidak dikerjakan.

Menurut Salim, proyek tersebut sudah selesai dikerjakan pada April 2018 lalu. Dia juga mengaku proyek tersebut dikerjakan melebihi volume, sekitar 95 meter, dari volume pekerjaan yang sebenarnya hanya 550 meter.

Pernyataan Salim itu pun kemudian mendapat bantahan dari Wakil Ketua I DPRD Aru, Penina Loy. Politisi PDIP itu mengatakan, ketika dirinya melakukan investigasi terhadap proyek tersebut, kedapatan keganjalan terhadap proyek tersebut.

“Saya resah dengan pernyataan Salim Piere (Kontraktor). Kalau dia mengaku jalan Gaimar-Jelia sudah dikerjakan, kemudian melebihi volume. Maka saya mau bilang, itu omong kosong. Karena fakta di lapangan lain,” ungkapnya

Saat itu dia mengaku, dalam waktu dekat, dirinya akan kembali turun ke Desa Gaimar-Jelia untuk memastikan, apakah benar jalan itu ada atau tidak. Jika tidak ada, maka dia akan membawa masalah itu dalam paripurna DPRD Kabupaten Kepulauan Aru.

“Dalam Waktu dekat ini saya akan turun untuk pastikan kembali pernyataan Salim Piere. Kalau tidak ada, maka saya akan angkat lagi pada sidang paripurna nanti,” pungkasnya.(WAL)

Comment