by

PT BKP Akui Lakukan Peledakan di Wetar

beritakotaambon.com – PT Batutua Kharisma Permai (BKP), akui melakukan peledakan (blasting) terhadap batuan keras, untuk memudahkan pengambilan Material Mineral Tembaga di Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Peledakan yang dilakukan, diakui sesuai aturan dan prosedur yang ditetapkan Kementerian ESDM.

Senior Manager External Affairs BKP-BTR, Dicky Murod, dalam rilisnya kepada media ini, Sabtu (15/10) menegaskan, kegiatan peledakan yang dilakukan sudah sesuai dengan peraturan dan prosedur yang diatur kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pengawasan Senjata Api dan Bahan Peledak (Wasendak) Kepolisian RI, serta sesuai Standar Internasional ISO 45000 mengenai Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

“Dalam pelaksanaan peledakan, BKP selalu mengutamakan keselamatan karyawan dan masyarakat di sekitar lokasi. Termasuk pemberitahuan jadwal pelaksanaan bagi masyarakat sebelumnya,” sebut Dicky.

Baca juga: Penambangan PT BKP-BTR Ancam Keselamatan Warga

Ia mengaku, ada peringatan sebelum dilakukan peledakan. Termasuk memastikan tidak ada orang dalam jarak 500 meter dari lokasi peledakan. Dan apabila ada keberatan dari masyarakat terhadap jadwal peledakan, maka perusahaan akan melakukan penyesuaian jadwal berdasarkan konsultasi dengan masyarakat.

“Karena ada bagian jalan nasional antara Desa Lurang dan Desa Ilwaki sekitar 500 meter dari lokasi peledakan, maka demi keamanan masyarakat dengan berkoordinasi bersama aparat TNI-Polri setempat melakukan tindakan pengamanan dengan penutupan jalan sementara, selama kurang lebih 20 menit,” tuturnya.

Ia menambahkan, BKP selalu mengutamakan keselamatan karyawan dan masyarakat dengan menerapkan standar yang tinggi. Sejak Januari 2018, BKP sudah mencapai lebih dari 13 juta jam kerja tanpa Lost Time Injury atau insiden yang menyebabkan terhentinya kegiatan.

Diberitakan sebelumnya, aktivitas penambangan yang dilakukan PT Batutua Kharisma Permai-Batutua Tembaga Raya (BKP-BTR) di Pulau Wetar, MBD, ini diduga mengancam keselamatan masyarakat setempat.

Baca juga: Pimpinan DPRD Didesak Bahas Temuan BPK Rp 5,3 M

Salah satu pemuda Pulau Wetar, Kilyon Maularak mengaku, aktivitas kedua penambangan tembaga yang dilakukan PT BKP-BTR, dinilai sangat dekat dengan jalan utama lintas Pulau Wetar. Sehingga aktivitas penambangan yang melibatkan bahan peledak tersebut, dinilai mengancam keselamatan warga yang saat itu melintasi jalan lintas Pulau Wetar.

Sehingga, lanjutnya, setiap kali proses blasting akan dilakukan, ada petugas penambangan yang datang ke jalan raya untuk menghentikan masyarakat yang hendak melintas, hingga selesai proses blasting.

Blasting merupakan suatu aktivitas pengisian bahan peledak ke dalam lubang ledak, dengan tujuan untuk menghancurkan batuan dari batuan induk. Proses blasting merupakan proses penting di setiap aktivitas penambangan dan mempunyai risiko K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang tinggi.

“Kami sebagai masyarakat Wetar sangat kecewa dengan kehadiran PT BKP-BTR, yang mengelola tambang tembaga di Pulau Wetar. Karena lokasi penambangan yang kedua ini dekat dengan jalan utama. Sehingga pihak perusahaan seakan acuh terhadap dampak penambangan kedepan terhadap masyarakat. Padahal setiap kali memulai blasting atau peledakan untuk memecahkan batu untuk penggalian, aktivitas masyarakat di jalan dihentikan hingga proses blasting usai, baru masyarakat dapat kembali melintasi jalan umum tersebut. Hal ini tentu sudah menunjukan bahwa ada ancaman,” beber Maularak, kepada media ini, Minggu (10/10).

Menurutnya, PT BTR-BKP merupakan perusahaan yang melakukan penambangan di Kecamatan Wetar Utara, tepatnya di Desa Lurang dan sebagian wilayah Desa Uhak.

Baca juga:
Masyarakat Adat Ancam Saniri Negeri Passo

Titik pertama penambangan, ada di wilayah Kali Kuning dan telah selesai. Sekarang lokasi penambangan telah berpindah ke wilayah Partolan, yang wilayah bertebing. Jalan lintas Wetar itu berada di bawah tebing.

“Mungkin saat ini kita belum melihat dampak dari aktivitas tambang tersebut, tetapi sewaktu-waktu bisa saja terjadi bencana longsor pada jalan lintas Wetar. Kalau dilihat, jarak antara lokasi tambang ke lokasi jalan utama hanya ratusan kilometer, bahkan letaknya pun berada di atas tebing. Jika dalam aktivitas blasting bersamaan dengan adanya gempa bumi atau mungkin curah hujan yang tinggi, bisa saja dapat terjadi longsor yang menutupi jalan lintas Wetar. Dan ini tentu sangat berbahaya bagi masyarakat yang melintasi jalan tersebut,” tegasnya

Terkait soal bahan peledak, katanya, jenisnya tidak diketahui. Tapi kalau dilihat dari struktur bebatuan di Pulau Wetar, maka tidak bisa menggunakan bahan peledak biasa.

“Kami menduga, bahan peledak yang digunakan adalah dinamik. Jika benar adanya, maka hal ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Jangan sampai kepentingan satu pihak, menghancurkan masa depan rakyat,” harapnya. (RHM/GEM)

Comment