by

Puluhan Supir Angkot Mengadu ke DPRD Minta PKL Kosongkan Ruas Jalan

Ambon, BKA- Kesal karena tidak dapat menggunakan terminal, puluhan sopir angkot mengadu ke DPRD Kota Ambon. Mereka menilai, Pemerintah Kota Ambon gagal merelokasi pedagang Mardika ke pasar Transit Passo, lantaran ratusan pedagang kini menggunakan akses jalan untuk berjualan.

Puluhan supir angkot dari berbagai trayek di kecamatan Baguala dan Teluk Ambon ini, tidak lagi menempati terminal Mardika, pasca pembongkaran lapak pedagang pada pekan lalu. Mereka pun naik pitam dan memilih mengadu ke DPRD Kota Ambon, selaku representasi rakyat.

Pantauan koran ini, aksi tersebut dimulai sekira pukul 12.30 WIT dan sempat menimbulkan kemacetan panjang di jalan Rijali, Belakang Soya lebih dari satu jam. Luas halaman gedung DPRD, bahkan tidak cukup untuk menampung puluhan angkot yang datang. Hingga sebagian angkot memilih parkir di luar gedung DPRD.

Beberapa saat kemudian, para sopir ini diterima oleh Komisi III DPRD Kota Ambon, yang dipimpin Ketua Komisi III Johny Wattimena. Sayangnya, rapat tersebut tidak berlangsung lama karena sebagian anggota DPRD sementara membahas anggaran APBD Perubahan 2020 bersama pihak eksekutif Pemerintah Kota Ambon.

Ketua Trayek Passo, Isak Pelamonia, kepada wartawan mengaku, kedatangan puluhan sopir angkot untuk menyampaikan kekecewaan terhadap Pemerintah Kota yang terkesan membiarkan pedagang menempati jalan Terminal Mardika untuk berjualan. Sehingga para sopir angkot tidak bisa menggunakan akses jalan keluar masuk terminal Mardika.

“Setelah terjadi pembongkaran, para pedagang ini tidak mau pindah ke Transit Passo. Mereka justru menggunakan badan jalan untuk berjualan. Akibatnya kita tidak bisa lagi menggunakan terminal. Kita biasanya lewat lajur kanan, kini tidak bisa dan harus balik melewati citra. Dan yang kita kesal, karena Polisi suruh kita masuk terminal sementara jalan itu tidak bisa dilewati karena pedagang sudah berjualan disitu,” kesal Isak, kepada wartawan, usai bertemu DPRD Kota Ambon, Senin (28/9).

Dikatakan, kedatangan mereka ke DPRD untuk menyampaikan kekecewaan mereka terhadap Pemerintah Kota Ambon yang terkesan gagal melakukan relokasi dan membiarkan para pedagang menempati badan jalan Pantai Mardika untuk berjualan.

“Kami para sopir angkot ini sudah mentaati protokol kesehatan dengan memakai masker sampai membatasi penumpang 50 persen. Pendapatan kami saat ini semakin berkurang, apalagi ditambah dengan persoalan ini justru lebih dipersulit. Kita harap segera ada solusi dari Pemerintah Kota,” harap Isak.

Ketua Komisi III DPRD Kota Ambon, Jhony Wattimena mengaku, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait untuk persoalan dimaksud. Baik dengan Disperindag terkait relokasi PKL, Dinas Perhubungan soal rekayasa jalur, dan Satpol PP soal pengamanan area pasar, beserta dinas PUPR Kota Ambon terkait rencana revitalisasi pasar Mardika.

“Kita akan rampungan bersama dengaan Satpol PP, Perhubungam dan Disperindag juga PU. Memang dalam proses revitalisasi membutuhkan waktu lama untuk menata,” singkatnya.

Tempat yang sama, Kasat Pol PP Kota Ambon, Jossi Lopies menyebutkan, pihaknya tidak dapat mengambil tindakan apapun yang dapat menggeser para PKL dari jalan raya tersebut. Mengingat jumlah pedagang yang sangat banyak dan tidak sebanding dengan jumlah petugas di lapangan yang hanya berkisar 10-15 personil.

“Sebenarnya lapak mereka telah disediakan di pasar Transit Passo dan Oleh-oleh. Tapi memang mereka tidak memiliki kesadaran untuk pindah. Padahal kita sudah sama-sama dengan dinas terkait, dibantu Satpol PP, TNI dan Polri, tidak berhasil,” katanya.

Saat ini, sambung dia, pihaknya terus memberikan himbauan agar ada kesadaran dari para pedagang kaki lima tersebut untuk segera pindah dari badan jalan, dan mau menempati lapak yang telah disediakan pemerintah.

“Tetap penertiban akan dilakukan, tapi saya belum yakin minggu ini. Karena butuh koordinasi. Ini manusia manusia banyak, ada sekitar 3.000-an PKL. Kita harus sampaikan dengan baik-baik, kalau kasar, nanti timbul lagi persoalan baru,” tandas Lopiez.

Plt Kepala Dishub Kota Ambon, Robby Sapulette, menambahkan, para supir angkot ini kesulitan menggunakan terminal pasca pembongkaran lapak pedagang. Karena para pedagang tidak mau direlokasi, sehingga memilih untuk menempati ruas jalan Pantai Mardika untuk berjualan.

Hal ini menurut dia, menimbulkan kemacetan panjang di beberapa ruas jalan. Karena para supir angkot harus memutar balik menuju jalan Telukabessy.

“Besok (hari ini) kita akan rapat dengan pimpinan, para OPD terkait beserta TNI dan Polri, untuk mencari solusi. Supaya para pedagang yang telah diundi itu segera kosongkan ruas jalan Pantai Mardika. Karena jalan itu diperuntukkan untuk akses keluar masuk. Kalau tidak, justru menimbulkan kemacetan. Tidak ada solusi, kecuali pedagang segera pindah,” tutup Sapulette.(UPE)

Comment