by

Raja Hattu Dituding Otak Dibalik Sengketa Lahan

Ambon, BKA- Raja Negeri Hattu, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Markus Hehalattu dituding sebagai otak dibalik kisruh sengketa lahan, yang ditempati Boby Saboni di Dusun Badiri Desa Hattu Cs, sebagai tergugat yang digugat Izaak Marlissa.

Pasalnya, sebagai kepala pemerintah negeri, Markus dinilai harus arif dalam mengambil langkah, menyikapi berbagai persoalan yang ada ditengah masyarakat. Bukan sebaliknya menyampaikan berita bohong yang terkesan dapat mengadu domba masyarakat sekitar.

Ani Sede, Ahli Waris dari Muhammad Sede mengaku, sebagai Raja Hattu, Markus Hehalattu sudah tahu persis bahwa lahan yang ditempati Boby Sabono Cs di Dusun Batu Badiri Desa Hattu, milik Muhammad Sade yang dibeli dari almarhum B Marlissa (ayah angkat) dari penggugat Izak Marlissa.

Dimana tahun 1980, lengkap dengan surat akta pembelian dan dua sertifikat kepemilikan atas nama Muhammad Sede yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional (BPB) Malteng pada tahun 1981.

“Sejak dibeli sampai habis kerusuhan tidak ada masalah. Tapi kok tiba-tiba anak piara dari almarhum B Merlissa, orangnya sering datang untuk mengganggu warga yang sudah menempati lahan yang sudah dibeli dari ayah saya,” kesa Ani Sede kepada wartawan, Rabu(24/2).

Dikatakan, dirinya pernah melapor pidanakan, Izak Marlissa ke Polda Maluku, karena memasang Police line diatas lahan milik Muhammad Sede. Tidak puas dilapor, Izak Marlissa kembali menggugat perdata ahli waris terhadap putusan 86/Pdt.G/2017/PN.AB dengan tergugat Imanuel Gunawan (Akay) dan Muhammad Sade.

“Karena tidak memiliki bukti yang kuat, gugatan Izak Marlissa akhirnya ditolak majelis hakim PN Ambon. Kami sudah menang, Beta bapak banding untuk memperkuat putusan Pengadilan Tinggi Ambon nomor 6/PDT/2018/PT.Amb tertanggil 26 Febuari 2018 dan menguatakan putusan PN Ambon dalam perkara perdata nomor 86/Pdt.G/2017/PN.AB. Kita ingin memperkuat supaya inkra, meskipun sudah dalam posisi memang tapi katong kembali ingin kasasi ke Mahkamah Agung (MA) RI,”ujar Ani.

Namun putusan kasasi MA nomor 2378 K/PDT/20/8 dalam perkara kasasi perdata antara Muhammad Sede melawan Izak Marlissa, permohonan kasasi ditolak atau Niet Ontvankelijke Verklaard (NO) Majelis Hakim MA, dengan kata lain pihak permohonan kasasi tetap masih dalam posisi yang dimenangkan berdasarkan putusan PT dan PN Ambon.

“Meskipun kasasi ditolak tapi dalam putusan PT dan PN Ambon, kita tetap masih menang. Tetapi putusan MA yang sering digunakan Izak Marlissa dan Raja Hatu, mengatakan kepada warga bahwa kami kalah. Tapi mereka tidak tahu bahwa putusan MA hanya menolak kasasi bukan putusan kalah atau menang. Jadi di MA itu permohonan kasasi ditolak tapi di PN dan PT Ambon, itu semuanya kita yang menang,” terangnya.

Sebagai ahli waris yang dipercayakan Muhammad Sede, dirinya merasa dirugikan dengan sikap dan ulah Raja Negeri Hattu, Markus Hehalattu, karena telah menyebarkan berita bohong kepada masyarakat. Bahwa pihak ahli waris dalam kasasi di MA sudah dinyatakan kalah, padahal dalam isi putusan hanya menolak dan tidak pernyataan kalah atau memang.

“Saya pernah bertemu dengan Raja Hattu di PN Ambon. Sudah disaampaikan, bahkan semua putusan sudah diberikan kepada Raja dalam bentuk copyan agar bapak Raja tidak bisa sebarkan isu-isu yang tidak benar sesuai fakta hasil putusan. Seharusnya sebagai Raja tidak boleh memihak kepada salah satu individu, tapi harus netral. Karena menurut warga Hattu kalau Izak Marlissa sebenarnya bukan asli orang Hattu tapi hanya dipiara dan bukan anak kandung dari almarhum B Marlissa, sebagai pemilik lahan yang dijual kepada ayah saya lengkap dengan surat-surat,” tutupnya.(RHM)

Comment