by

Relawan YAB Bakal Diproses Hukum

Relawan Yayasan Anak Bangsa (YAB) kemungkinan juga akan ikut diproses hukum, pada kasus penipuan dan penggelapan dana masyarakat yang dilakukan ketua dan sekretaris yayasan tersebut.

Hal itu disampaikan Direktur Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Maluku, Kombes Pol. Sih Harno. Menurutnya, saat ini telah ada dua tersangka pada kasus penipuan dana masyarakat sebesar Rp 5,6 miliar. Yakni, Ketua Yayasan Anak Bangsa, Josefa Jenalia Kelbulan, serta Sekertarisnya, Lambert W. Miru.

Saat ini, katanya, tim penyidik Direktorat Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Maluku masih terus mendalami peran-peran dari para relawan. Sebab ada indikasi, ada sebagian korban menyetor uang ke relawan, tapi tidak diberikan semua kepada ketua dan sekertaris yayasan atau tersangka. Sehingga tidak tahu aliran uang itu kemana.

“Untuk itu, saat ini, para relawan kita sedang telusuri semua peran-peran mereka. Kita berharap, masyarakat beri waktu ke penyidik untuk bekerja mengungkap kasus ini sampai akar-akarnya,” jelas Harno, Minggu (30/5).

Sejauh ini, sudah 33 orang diperiksa sebagai saksi. 26 saksi diantaranya tidak memiliki kwitansi penyetoran, sedangkan 7 saksi lainnya memiliki kwintasi. Sementara korban yang tercatat di buku pengaduan sejauh ini, sudah sebanyak 43 orang.

“Jadi semua ini kita sedang dalami. Beri waktu ke kita untuk bekerja dulu,” tandas Harno.

Sebelumnya, Praktisi hukum di Maluku, Fileo Pistos Noija, meminta agar Penyidik Ditreskrimum Polda Maluku lebih jelih dalam penyidikan kasus penipuan dan penggelapan yang dilakukan Yayasan Anak Bangsa (YAB).

Bukan hanya Ketua dan Sekretaris Yayasan Anak Bangsa, Josefa Jenalia Kelbulan dan Lambert W Miru, yang diproses hukum dikasus itu. Namun juga melibatkan seluruh relawan yayasan tersebut.

Menurut Noija, proses penipuan dan penggelapan dana milik masyarakat yang saat ini mencapai Rp 5,6 miliar itu tidak akan berhasil dilakukan oleh Ketua dan Sekretaris YAB, bila tidak didukung oleh semua relawan yayasan yang tersebar dibeberapa wilayah Maluku dan sekitarnya.

“Saya kira, jika kita bedah kasus YAB itu, tidak bisa penyidik hanya menetapkan dua orang tersangka, dalam hal ini ketua dan sekertaris saja. Tapi harus diketahui, bahwa relawan-relawan itu juga harus diproses hukum,” ujar Noija, Kamis (27/5).

Dalam sistem kerja YAB, katanya, ada modus yang ditawarkan ketua dan sekertaris yayasan. Kemudian modus itu ditindaklanjuti oleh relawan-relawan di lapangan.

Pertanyaannya, apakah relawan ini mendapat dana dari para korban, lalu disetor semua ke kedua tersangka atau tidak? “Nah ini yang harus dikejar penyidik. Sebab korban dalam kasus ini, ratusan bahkan bisa masuk ribuan orang,” beber pengacara senior ini.
Dia mengaku, jika memang dalam penyelidikan dan penyidikan, ditemukan ada uang yang tidak mengalir ke ketua dan sekertaris selaku aktor dalam kasus ini, maka penyidik harus memproses hukum para relawan atau kaki tangan dari kedua tersangka tersebut.

“Bagi saya sederhana saja, penyidik tinggal mencari tahu saja, uang-uang korban yang diambil relawan atau kaki tangan YAB ini seluruhnya diserahkan ke kedua tersangka atau tidak. Kalau memang tidak, itu harus mereka diseret. Dan bagi saya, kalau menetapkan para relawan itu sebagai tersangka adalah hal yang paling mudah, hanya saja tergantung wewenangan tim penyidik,” pungkasnya.(SAD)

Comment