by

Relawan YAB Disinyalir “Cuci Tangan”

Direktorat Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Maluku sampai kini belum menjerat para relawan Yayasan Anak Bangsa (YAB), terkait kasus penipuan dan penggelapan.
Padahal, berdasarkan pengakuan Ketua dan Sekertaris YAB, Josefa Kelbulan dan Lambert W. Miru, para relawan yang bersentuhan langsung dengan para korban di lapangan.

Praktisi hukum Maluku, Rony Samloy, mengatakan, seharusnya penyidik Ditreskrimum Polda Maluku punya rasa kehati-hatian dalam pengusut kasus ini. Sebab dari informasi yang beredar, setiap relawan di kabupaten/kota berjumlah 6 orang. Mereka ini patut dicurigai. Sehingga peran mereka harus ditelusuri tim penyidik Polda Maluku.

“Kita minta supaya Polda Maluku memproses para relawan ini. Sebab disinyalir, mereka ini cuci tangan. Padahal dilapangan, mereka ini yang beraksi,” ungkap Samloy, Rabu (2/6).

Dia berharap, penyidikan kasus tersebut mendapat titik terang. Artinya, semua yang terlibat harus dijerat. Tidak hanya Ketua dan Sekertaris YAB saja.

“Pada prinsipnya, kita minta agar para relawan juga diproses hukum. Dan itu harus, tidak ada alasan. Karena peran dan keterlibatan mereka sangat penting dalam kasus ini,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, Ketua Yayasan Anak Bangsa (YAB) Josefa Kelbulan dan sekretarisnya Lambert W Miru, melalui kuasa hukumnya, Charter Soulissa dan Jitro Nurlatu, mengatakan, operasional lapangan dilakukan oleh para relawan. Mereka yang berhubungan dengan masyarakat.

Para relawan YAB yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, terkait investasi maupun tender. Relawan pun yang menerima uang masyarakat, dengan jumlah tertentu. Itu semua tanpa diketahui oleh ketua.

“Setelah kasus mencuat, penyidik menyebutkan penipuan dan penggelapan di YAB mencapai lebih dari Rp 4 miliar, dan terus bertambah. Sementara bukti uang yang dikuasai klien kami hanya sebesar Rp 400 juta. Dari jumlah Rp 4 miliar ini, kita minta kajiannya dimana. Karena mekanisme pengaturan di lapangan, semua dilakukan relawan. Mereka ambil uang, klien kami tidak pernah tahu berapa yang diinvestasi masyarakat. Bisa saja ada yang sumbang Rp 20 juta, stor hanya Rp 7 juta,” jelas Soullisa, 31 Mei 2021 lalu.

Menurut Soulissa, indikasi keterlibatan relawan menguat dari laporan Antonius Batlayeri ke Polres KKT, terkait penipuan dan penggelapan yang dilakukan YAB, yang dinahkodai Josefa Kelbulan.

Dalam laporan tersebut, Batlayeri mengaku, YAB menggelapkan uang miliknya sebesar Rp 500 juta. Padahal setelah digugat, Batlayeri tidak dapat membuktikan dana Rp 500 juta tersebut. Sehingga pengadilan mengabulkan seluruh gugatan Kelbulan.

“Atas dasar laporan, yang katanya klien kami menggelapkan uang milik Batlayeri sebesar Rp 500 juta, kami ajukan gugatan. Dan terbukti, gugatan kami diterima seluruhnya lewat salinan putusan perdata nomor 09 tanggal 19 Mei 2021. Dalam gugatan ini, tergugat tidak dapat membuktikan dalilnya itu, karena penggugat hanya menginves Rp 750 ribu. Dan itu terbukti lewat rekening koran,” tandasnya.

Jitro Nurlatu, menambahkan, mereka meminta penyidik untuk memeriksa relawan YAB. Karena mereka terindikasi, turut menikmati atau menggelapkan dana milik para korban dengan mengatasnamakan YAB.

“Dari persoalan ini, seakan akan klien kami pelaku tunggal. Padahal, penyidik harus menelusuri lagi dan memeriksa para relawan, yang dalam hal ini bergerak dan bersentuhan langsung dengan masyarakat. Penyidik harus lihat kemungkinan relawan turut menikmati uang-uang tersebut. Karena uangnya tidak langsung ke klien kami, namum melalui relawan,” pintah Nurlatu. (SAD).

Comment