by

Rumah Ibadah Contoh Tekan Corona, Sinode Bentuk Satgas Covid-19

Ambon, BKA- Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama (Kemenag) RI, Prof. Dr. Thomas Pentury, berharap, agar rumah ibadah dapat dijadikan contoh terbaik dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Hal itu sesuai surat edaran Menteri Agama RI Menteri Agama Nomor SE.23 Tahun 2020 tertanggal 30 November 2020, terkait Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Ibadah dan Perayaan Natal di Masa Pandemi Covid-19.

Salah satunya, yakni, jumlah umat yang dapat mengikuti kegiatan ibadah dan perayaan Natal secara berjemaah atau kolektif, tidak melebihi 50 persen dari kapasitas rumah ibadah, dengan tetap mentaati protokol kesehatan.

Panduan ini, kata Pentury, diharapkan bisa meminimalisasi risiko kerumunan, tanpa mengesampingkan aspek spiritualitas dalam melaksanakan ibadah dan perayaan Natal.

“Jadi rumah ibadah harus bisa menjadi contoh terbaik dalam upaya pencegahan persebaran Covid-19,” terangnya.

Meskipun suatu daerah berstatus zona kuning penyebaran virus corona, tapi jika di lingkungan rumah ibadah terdapat kasus penularan corona, maka rumah ibadah itu tidak dibenarkan menyelenggarakan ibadah berjemaah atau secara kolektif.

Dengan kata lain, pelaksanaan ibadah secara berjemaah harus didasarkan pada situasi riil terhadap pandemi corona di lingkungan rumah ibadah. Bukan hanya berdasarkan status zona yang berlaku di daerah.

Sehingga edaran itu menyebutkan, agar umat Nasrani hendaknya melaksanakan ibadah secara sederhana dan tidak berlebih-lebihan, dan lebih menekankan persekutuan di tengah-tengah keluarga.

Selain itu, surat ederan itu juga menjelaskan tentang 10 kewajiban pengurus dan pengelola rumah ibadah saat penyelenggaraan ibadah Natal secara berjemaah, yakni, menyiapkan petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area rumah ibadah, melakukan pembersihan dan disinfeksi secara berkala di area rumah ibadah, membatasi pintu/jalur keluar masuk rumah ibadah guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan, menyediakan fasilitas cuci tangan/sabun/hand sanitizer di pintu masuk dan pintu keluar rumah ibadah, menyediakan alat pengecekan suhu di pintu masuk bagi seluruh pengguna rumah ibadah.

Jika ditemukan pengguna rumah ibadah dengan suhu 37,5 derajat celcius (2 kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit), tidak diperkenankan memasuki rumah ibadah.

Selain itu, pengurus dan pengelola rumah ibadah menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus di lantai/kursi, minimal jarak 1 meter. Melakukan pengaturan jumlah jemaat/umat/penggguna rumah ibadah yang berkumpul dalam waktu bersamaan, untuk memudahkan pembatasan jaga jarak. Mempersingkat waktu pelaksanaan ibadah, tanpa mengurangi penghayatan akan nilai-nilai Natal. Memasang imbauan penerapan protokol kesehatan di area rumah ibadah, pada tempat-tempat yang mudah terlihat. Serta memberlakukan penerapan protokol kesehatan secara khusus bagi jemaat/umat tamu yang datang dari luar kota, yakni, memperlihatkan hasil test PCR atau Rapid Test yang masih berlaku.

Sementara itu, kewajiban bagi umat yang akan mengikuti kegiatan ibadah dan perayaan Natal secara berjemaah, diantaranya, jemaat/umat dalam kondisi sehat, menggunakan masker/masker wajah sejak keluar rumah dan selama berada di area rumah ibadah, menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, menghindari kontak fisik, seperti bersalaman atau berpelukan, menjaga jarak antar jemaat/umat minimal 1 (satu) meter, menghindari berdiam lama di rumah ibadah atau berkumpul di area rumah ibadah, serta ikut peduli terhadap penerapan pelaksanaan protokol kesehatan di rumah ibadah sesuai dengan ketentuan. .

Selain untuk kepentingan ibadah yang wajib, bagi anak-anak dan jemaat/umat lanjut usia yang rentan tertular penyakit serta orang dengan sakit bawaan yang berisiko tinggi terhadap Covid-19, agar mengikuti ibadah secara daring di rumah masing-masing dengan tata ibadah yang telah disiapkan oleh para pengurus dan pengelola rumah ibadah.

Terhadap ederan tersebut, Sekretaris Umum Sinode GPM Maluku, Pdt Elifas Maspaitella, mengatakan, pihaknya telah membentuk tim penanganan Covid-19 disetiap jemaat gereja yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Maluku.

Selain itu, dalam menjalan ibadah Natal, jumlah jemaat yang hadir dalam ibadah memang dibatasi 50 persen dari kapasitas gereja. Namun volume pelaksanaan ibadah ditambah, sesuai dengan ketentuan jumlah jemaat gereja masing-masing.

“Kalau selama ini biasanya pagi dan sore ibadah gerejanya dua kali, tapi semenjak sudah diijinkan ibadah di gereja, itu volumenya ditambah sampai tiga kali ibadah gereja. Sedangkan pembatasan umur dalam menjelankan ibadah, itu ikut ketentuan Kemenkes, bukan gereja. Dan saya kira, ketentuan Kemenkes sudah jelas, bahwa bayi, anak dan lansia, diharapkan tidak ke gereja,” pungkas Maspaitella. (RHM)

Comment