by

Saksi Akui Korban Dibunuh Karena Balas Dendam

Sidang kasus pembunuhan berdarah yang terjadi Air Mata Cina, RT.003/RW 002,Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, yang menyeret terdakwa Jefry Safry Leinussa kembali berlangsung di Pengadilan Negeri Ambon,Jumat, (11/6).

Kali ini, jaksa penuntut umum menghadirkan dua pemilik kost yang ditempati korban dan terdakwa. Mereka masing-masing, Ny Mala dan bapak Meniks Mahulette.

Dalam keterangannya, kedua saksi menyebut, tindakan pembunuhan yang dilakukan terdakwa terhadap korban dilatarbelakangi balas dendam.

Sebab, awalnya, saksi melihat sendiri kalau korban memukul kepala terdakwa menggunakan benda tumpul mengakibatkan kepala terdakwa berdarah.

“Karena korban lebih dulu memukul terdakwa, jadi terdakwa tidak terima lalu menikam korban,” ujar kedua saksi di persidangan yang dipimpin ketua majelis hakim, Lutfi Cs, sedangkan terdakwa didampingi kuasa hukumnya, Herberth Dadiara.

Keduanya mengaku, saat kepala terdakwa sudah mengeluarkan darah, dia kemudian naik ke lantai II tempat kost korban. Tidak menunggu lama, terdakwa kemudian mengambil pisau di samping korban lalu menikam korban hingga tewas.

“Jadi yang kita ketahui seperti itu yang mulia,” jelasnya.
Saksi mengaku, pasca kejadian itu, terdakwa lantang meminta agar segera melaporkan perbuatannya itu ke pihak kepolisian.
“Saat itu terdakwa bilang sudah habis (tewas) jadi panggil polisi sudah. Itu pengakuan terdakwa usai membunuh korban yang mulia,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, aksi membabi buta ditunjukan terdakwa Jefry Safry Leinussa alias Jefry.
Pria 24 tahun warga Air Mata Cina, RT.003/RW 002,Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon ini nekat menghabisi rekannya usai mengkonsumsi minuman keras di dalam kamar kost di kawasan Air Mata Cina. Akibatnya, terdakwa yang merupakan karyawan Wiraswasta tersebut harus duduk di kursi pesakitan pada pengadilan Negeri Ambon untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,pada Senin (17/5).

Jaksa penuntut umum Beatrik .N Temmar dalam berkas dakwaannya menyebut, tindak pidana yang dilakukan terdakwa tepatnya 1 Januari 2021 sekitar pukul 12.30 WIT, tepatnya di dalam kamar kosong dekat kamar kost milik korban di kawasan Air Mata Cina.

Awalnya, terdakwa bersama korban Jhon, saksi Frits dan saksi Topan bersama-sama mengkonsumsi minuman keras. Karena korban sudah mabuk, terdakwa bersama rekannya Frits membawa korban ke lantai II kamarnya untuk istirahat. Saat sampai lantai II, korban tidak tahu mengapa memukul kepala terdakwa menggunakan benda tajam mengenai pelipis kiri mengakibatkan kepala terdakwa terluka.

Selanjutnya, terdakwa menarik tubuh korban ke dalam kamar kosong dekat kamar kost korban yang berada di lantai II. Kemudian, terdakwa turun ke lantai I untuk membersihkan luka pada pelipisnya.
Karena tidak puas dengan tindakan korban, terdakwa kembali naik ke lantai II lalu mengambil sebilah pisau yang berada di samping korban kemudian menusuk tubuh korban mengenai rusuk kiri, leher dan dada korban secara beruntun hingga korban tewas.
“Perbuatan terdakwa didakwa melanggar pasal 338 dan 351 ayat (3) KUHP,” jelas JPU dalam berkas dakwaannya.(SAD).

Comment