by

Saksi Bebeberkan Kejahatan Kepsek SMP 8 Leihitu

Ambon, BKA- Dari sepanjang persidangan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi untuk kasus dugaan tipikor dana BOS SMP Negeri 8 Leihitu, Kabupaten Malteng, yang menyeret terdakwa Sobo Makatita,Kepsek SMP 8 Leihitu, semuanya tetap memberatkan terdakwa.

Hal ini seperti yang terjadi di persidangan, Jumat (15/1) kemarin, saksi dari dua pemilik toko yang dihadirkan JPU Kejari Ambon, membeberkan kalau selama ini terdakwa kerap ke toko saksi untuk meminta nota kosong.
“Pernah kita diminta agar beri nota kosong ke terdakwa, tapi kami tidak mau. Kami tolak,” ungkap kedua saksi masing-masing, Hasbollah Matonan dan Nurlia dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Ambon itu.

“Nota kosong pernah dia minta di istri saya. Kata istri, dia pernah berikan nota kosong. Ada beberapa waktu juga kami berikan saja, karena belum sempat melayani saat toko sedang ramai,” tambah saksi Pemilik Toko Fotocopy, Hasbollah.

Dia melanjutkan, dia juga pernah melihat terdakwa menulis sendiri nota di tokonya. Saat itu, terdakwa datang dengan nota yang terkena air.
Hanya saja, dia kaget saat melihat ada nota transaksi foto copy sebanyak 5400 lembar tiga kali berturut-turut, seharga Rp. 1,3 juta setiap bulannya. Hasbollah mengatakan, tokonya memang tempat fotocopy namun terdakwa hanya membeli alat perlengkapan kantor.

“Terdakwa biasa belanja alat kantor, buku, spidol, dan lain-lain. Tapi saya mau menegaskan disini, foto copy dalam jumlah yang banyak, tidak pernah ada,” ujarnya.

Dia mengaku terdakwa selalu berbelanja di tokonya, berawal dari tahun 2012 hingga 2017, namun dia hanya membeli perlengkapan kantor. Dia pun ingat dengan jelas, terdakwa yang selalu datang berbelanja.
“Biasanya dia datang dengan bendahara, perempuan. Saya tidak ingat namanya. Tapi terdakwa selalu ada,” ujarnya.
Hal yang sama juga disampaikan Nurlia. Pemilik toko bangunan itu mengiayakan terdakwa selalu datang berbelanja sendiri. Terdakwa pernah meminta nota kosong padanya, dengan alasan membuat laporan.

“Tapi saya tolak. Saya tidak kasih. ke dia,” katanya.
Nurlia sendiri juga kaget lantaran saat diperiksa penyidik, dia disodorkan nota dari tokonya dengan jumlah harga barang hingga Rp. 400 juta.

“Dia belanja di toko saya itu, tidak ada sampai Rp 400 juta. Paling tinggi itu Rp 100 juta saja,” ujarnya.
Dia mengatakan, terdakwa tiga kali berbelanja padanya dengan uang muka masing-masing Rp. 70 juta,Rp. 80 juta dan Rp. 100 juta. Biasnya terdakwa membeli bahan bangunan, seperti semen, batu, tripleks, hingga kayu. Namun, tidak semua barang itu sesuai dengan jumlah.

“Pertama kali sesuai, kedua ada melebihi. Nanti beliau datang bayar. Kalau terakhir itu, beliau ada tambah uang,” jelasnya.(SAD)

Comment