by

Saksi Beberkan Kebejatan Terdakwa di Kasus Pornografi

 

Ambon, BKA- Saksi memberatkan inisial SK alias Sali dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Maluku untuk memberikan keterangan dalam sidang lanjutan kasus tindak pidana pornografi yang dilakukan terdakwa Steven Carlos de Fretes alias Steven.

Di persidangan yang di pimpin ketua majelis hakim Lucky R. Kalalo Cs itu, saksi mengatakan, dirinya yang pertama kali melihat foto setengah bugil korban di akun instagram miliknya.

“Saya orang yang pertama kali melihat postingan terdakwa di akun instagram bernama Stiven Carlos21, yang mengeluarkan gambar berbau negatif atau gambar korban. Akun Instagram saya nama Sali. Saya orang pertama yang lihat,” ujar Sali di hadapan persidangan, Kamis kemarin.

Dia membeberkan, setelah melihat gambar tersebut, dirinya langsung Screenshot gambar dimaksud lalu menemui korban untuk melaporkan posting terdakwa.

Saat ditemui korban ,keduanya langsung mendatangi kantor Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease untuk melaporkan hal itu.

“Waktu lapor, polisi datang ambil terdakwa tapi terdakwa tidak ada. Kemudian saksi bersama korban mendatangi rumah terdakwa di Kayu Putih, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon,” jelasnya.

Sampai di rumah terdakwa, terjadi perkelahian antara terdakwa dengan saksi korban. Selanjutnya, korban minta supaya terdakwa secepnya hapus postingan tersebut. Namun terdakwa tetap bersikeras tidak mau.”Dia memang sudah hapus postingan, tapi korban mau juga hapus di HP terdakwa, tapi terdakwa tidak mau.

“Karena terdakwa tidak mau hapus, terdakwa kemudian banting rusak HP miliknya. Saya akui juga melihat hanya ada dua foto, namun tidak ada orang lain yang tau. Yang tau hanya saya sendiri,” tandas saksi di persidangan tersebut.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, hakim menunda sidang hingga pekan depan untuk agenda pemeriksaan saksi korban sekaligus pemeriksaan terdakwa.

Sebelumnya diberitakan, dalam persidangan perdana Minggu lalu, terdakwa yang merupakan warga Kayu Putih, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon ini, didakwa melanggar dua pasal yakni, pasal 29 Ayat (1) Jo Pasal 4 ayat (1) huruf d UU RI No 44 Tahun 2008 tentang pornografi dan juga pasal 27 Ayat (1) Jo pasal 45 Ayat (1) UU RI Mo 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

JPU, S. Aryani dalam berkas dakwaanya menyebutkan, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terjadi pada, Sabtu 28 Juli 2018, sekitar pukul 11.00 WIT, tepatnya di rumah terdakwa.

Awalnya ketika korban yang merupakan mantan pacar terdakwa, berada di rumahnya,menerima pesan gambar melalui saluran WhatsApp yang bernuansa kesusilaan dari terdakwa. Dan terdakwa saat mengirimkan gambar tersebut kepada korban, dia mengancam dengan berkata akan menyebarkan gambar korban melalui aplikasi Instagram supaya diketahui teman-teman korban. Merasa malu, korban langsung menuju Polsek Sirimau untuk melaporkan tindakan terdakwa.

Petugas yang sudah menerima laporan bergerak cepat mendatangi tempat tinggal terdakwa untuk menangkap dia, sayangnya, terdakwa sudah melarikan diri.

Tak sampai disitu, aksi terdakwa masih terus berlanjut, dalam waktu yang sama, terdakwa terus mengirimkan foto bernuansa negatif itu ke terdakwa sambil tetap mengancam korban. “Kamu yang malu, bukan saya yang malu”. Sebut terdakwa sebagaimana dalam dakwaan JPU.

Atas perbuatan terdakwa, postingan gambar korban diketahui rekan kerja korban, dan ketika mereka menegur terdakwa, terdakwa malah membentak mereka dengan mengirimkan pesan melalui seluler nya bahwa tidak takut kalau dilaporkan ke Polisi.

Kemudian dari laporan korban inilah, terdakwa menghilang dari pihak kepolisian. Lalu akhirnya terdakwa dimasukan dalam daftar Pencarian Orang (DPO), dan tepatnya Tahun 2020 bulan kemarin, terdakwa berhasil dibekuk tim Ciber Ditreskrimsus Polda Maluku untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.(SAD).

Comment