by

Saniri Negeri Haria Diperiksa Jaksa

AMBON-BKA, Sejumlah saniri Negeri Haria, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah diperiksa penyidik Cabang Kejaksaan Negeri Ambon di Saparua.

Kacabjari Saparua, Ardy, mengatakan, untuk melengkapi berkas perkara tiga tersangka yang dijerat dalam kasus dugaan korupsi ADD dan DD Haria, penyidik baru saja melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saniri negeri.

“Kita periksa beberapa saniri negeri beberapa hari lalu. Pemeriksaan dilakukan untuk mempercepat penuntasan kasus ini,” jelas Ardy, Minggu (15/8).

Menurutnya, selain Saniri, ada pun perangkat Desa Haria yang diperiksa jaksa.
Pemeriksaan terhadap saksi-saksi tersebut sudah dua kali dilakukan.

“Awal saat penyelidikan, mereka mintai keterangan. Ini saat naik penyidikan (dik), mereka diperiksa ulang,” jelasnya.

Dia mengaku, kemungkinan, dalam pekan ini pemeriksaan terhadap saksi-saksi lain juga dilakukan.

“Setelah pemeriksaan saksi-saksi, baru dilakukan pemeriksaan tiga tersangka,” tandasnya.
Sebelumnya, Ardy, mengatakan, pasca penetapan tiga tersangka ADD Haria, penyidik kini mulai merampungkan berkas tersangka.

“Berkas tiga tersangka kita rampungkan untuk kepentingan persidangan nanti,” ujar Ardy, Kamis (1/7).

Sekedar diingat, penyidik Kejaksaan Cabang Kejari Ambon di Saparua, resmi menetapkan tiga tersangka dalam kasus dugaan korupsi ADD dan DD Negeri Haria, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).

Kepala Cabang Kejari Ambon di Saparua, Ardy, dalam rilis yang diterima media ini mengatakan, setelah melalui proses penyidikan panjang, penyidik mengantongi dua bukti permualaan yang cukup, sehingga menetapkan tersangka dalam perkara ini.

“Berdasarkan hasil ekspose pada Jumat 18 Juni 2021 lalu,kasus dugaan tindak pidana korupsi ADD/DD Haria tahun 2018, resmi ditetapkan tiga tersangka,” ungkap Ardy, Selasa (29/6).
Ketiga tersangka ini yakni, JMM selaku mantan raja Haria,JS Bendahara, dan JM, selaku wiraswasta.

“Ketiga tersangka ini ketika dalam proses penyidikan, diduga sebagai otak dibalik korupsi anggaran Negara tersebut, sehingga penyidik menetapkan ketiganya sebagai tersangka,” jelasnya.

Jaksa dengan dua bunga melati ini mengaku, berdasarkan perhitungan keruhgian negara, ahli kontruksi dari Poltek Negeri Ambon berpedoman terhadap alat bukti, berupa dokumen-dokumen, keterangan saksi-saksi. Diketahui, jumlah kerugian Negara dalam perkara ini mencapai Rp.300 juta lebih.

Baca juga: Status Hukum Fery Tanaya Tergantung Putusan Kasasi

“Jadi ini kerugian kurang lebih tiga ratus juta. Itu hitungan ahli dan penyidik,” tandasnya.
Data yang di himpun Koran ini, ADD dan DD ini terjadi penyalahgunaan berkisar ratusan juta rupiah dari jumlah anggaran yang di kucurkan Pemerintah Tahun 2018 sebesar Rp 2 miliar lebih.

Pengusutan kasus ini, dilakukan berdasarkan laporan masyarakat yang menyebut kalau, ada sejumlah laporan pertanggungjawaban ADD dan DD Haria, modusnya terjadi di mark-up dari item-item pembangunan.

Misalnya, pekerjaan lapangan volly, pekerjaan jalan di lingkungan, pembangunan PAUD, jambanisasi, rumah layak huni, dan pemberdayaan.Semua item-item pekerjaan itu diduga di mark-up. Padahal ketika dikroscek dengan nilai sebenarnya di lapangan, tidak benar. (SAD)

Comment