by

Sekjen Kemenag Buka Sidang Sinode GPM

Ambon, BKA- Sekjen Kemenag RI H. Nizar Ali didampingi Gubernur Maluku Murad Ismail, resmi membuka Sidang Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) ke-38, Minggu (7/2).
Sidang Sinode ini dipusatkan di gedung Gereja Maranatha, kecamatan Sirimau, Ambon.

Turut hadir, Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI, Deputi I KSP Febry Tetelepta, Wagub Maluku Barnabas Orno, Kakanwil Agama Provinsi Maluku, Ketua Umum PGI, serta mantan anggota DPR RI Dapil Papua Barat, Michael Wattimena dan dan Tokoh Agama.

“Saya percaya, sidang GPM akan dapat melahirkan keputusan- keputusan yang strategis untuk dijadikan pedoman di Maluku, khususnya warga GPM. Dan melahirkan ketua dan anggota Majelis Pelaksana Harian Sinode GPM yang berkualitas serta berdedikasi tinggi dan tingkatkan GPM,” harap Nizar Ali.
Nizar Ali juga menghimbau, tentang pentingnya pengimplementasian nilai-nilai kearifan lokal atau local wisdom dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Menurut dia, Provinsi Maluku, tidak hanya dikenal sebagai provinsi kepulauan nan indah dengan hasil bumi yang melimpah, tapi juga dikenal dengan toleransi beragama yang begitu tinggi. Dimana masyarakatnya hidup dengan rukun, damai, saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

“Masyarakat Maluku sebagai satu kesatuan geografis suku, ras, agama memiliki nilai kearifan lokal yang telah teruji, tangguh dan terbukti dalam jelajah sosialnya, dalam mengatasi berbagai problematika sosial,” ungkapnya.
Kearifan lokal seperti Pela Gandong, Ain Ni Ain, Hidop Orang Basudara, Potong di Kuku Rasa di Daging, Ale Rasa Beta Rasa, Sagu Salempeng Dipatah Dua, yang diyakini sebagai perekat sosial dan kerap menjadi acuan dalam menata hubungan dan kerukunan antar sesama umat beragama di Maluku.

Kendati demikian, lanjut dia, masih banyak yang belum menyadari sesungguhnya, bahwa Kearifan lokal dapat dijadikan komponen penting terutama untuk mewujudkan kerukunan. Padahal, kearifan lokal, tradisi dan adat istiadat sangat efektif mendukung upaya menjaga kerukunan antar umat beragama.
Nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal seperti keceriaan hati, penghormatan terhadap sesama, mengorbankan ego pribadi untuk kepentingan bersama, serta keterbukaan pada dialog bermusyawarah merupakan nilai-nilai dasar yang bisa menguatkan tali-tali persaudaraan antar sesama manusia.
Nizar berharap, masyarakat Maluku terus melestarikan kearifan lokal sebagai upaya membina kerukunan antar umat beragama. Sehingga Provinsi Maluku bisa menjadi satu contoh toleransi bagi provinsi-provinsi lainnya di Indonesia.

Sementara itu, Gubernur Maluku Murad Ismail, dalam sambutannya menjelaskan, selama ini GPM telah berkontribusi besar melayani masyarakat lewat berbagai program pembinaan moral spiritual, perkuatan lembaga keluarga, perlindungan perempuan dan anak serta hak asasi manusia, mendorong pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi umat dan pelestarian lingkungan hidup.

GPM bukan saja berkiprah di Provinsi Maluku dan Maluku Utara, tetapi juga pada tingkat nasional, melalui keterlibatan pada persekutuan gereja-gereja di Indonesia, bahkan di tingkat global.
“Karena itu, saya menaruh harapan besar, GPM akan terus tumbuh menjadi gereja di hati bangsa. Yang bersama-sama dengan semua agama, membangun ketahanan nasional, merajut toleransi, dan membina perdamaian, serta mewujudkan kemaslahatan bersama, pintanya.

Mantan Dankakor Brimob ini berharap, GPM harus mampu mengembangkan program-program pelayanan yang lebih peka terhadap realitas masyarakat. GPM juga harus mampu bekerja sama dengan pemerintah untuk mendorong masyarakat, agar lebih inovatif, kreatif dan mampu berkompetisi di berbagai sektor.
Dikatakan, selama lima tahun kepengurusan, Pimpinan Sinode GPM, telah berjalan bersama dengan Pemerintah Provinsi Maluku, juga dengan agama-agama, serta seluruh komponen masyarakat dalam rangka mengusahakan kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik.

“Saudara-saudara telah mengimplementasikan dengan baik, visi bersama untuk menjadikan GPM sebagai Gereja Orang Basudara, lewat karya dan pelayanan kepada masyarakat di wilayah Maluku dan Maluku Utara,” tandasnya.
Diakhir sambutan, Murad menyampaikan terima kasih serta apresiasi kepada GPM mewakili Pemprov Maluku. Termasuk bagi para pendeta, serta perangkat pelayanan, yang telah mengabdi dan melayani dengan sepenuh hati diberbagai pulau dan pelosok. Bahkan daerah kategori terpencil dan terisolasi.
“Saya berharap, tema persidangan kali ini yaitu, Beritakanlah Tahun Rahmat Tuhan Telah Datang dan Kerjakanlah Keselamatanmu, ini akan menjadi sumber inspirasi dalam pelayanan oleh para peserta, dan juga bagi para pendeta, perangkat pelayanan, dan seluruh warga GPM,” harapnya.

Tak lupa, Gubernur juga menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Majelis Pekerja Harian Sinode GPM periode 2016-2021 dan jajaranya, yang telah membangun kemitraan dan kerjasama, dengan pemerintah daerah selama ini, serta kepada seluruh warga jemaat GPM di Maluku dan Maluku Utara.

“Akhirnya atas nama pemerintah dan masyarakat Maluku, kami ucapkan selamat bersidang. selamat merumuskan program-program pelayanan, serta selamat memilih para pemimpin gereja untuk melayani GPM, dan melayani kemanusiaan untuk periode lima tahun ke depan,” tutup Murad.
(RHM)

Comment