by

Sekolah Belum Maksimalkan Fungsi Dapodik

Ambon, BKA- Masih ada sejumlah sekolah di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), baik tingkat PAUD, SD maupun SMP, yang belum memanfaatkan fungsi Dapodik dengan baik, guna meningkatkan mutu pendidikan.

Hal itu diakui Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) MBD, Ferdinand Lewier. Menurutnya, masih ditemukan sejumlah sekolah tidak memanfaatkan Dapodik secara maksimal. Akibatnya, mereka tidak mendapatkan bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan dari pemerintah pusat.

Dengan memanfaatkan Dapodik secara baik, maka sekolah bisa saja mendapat bantuan DAK pendidikan, sehingga pembangunan fisik dapat dilakukan di sekolah.

“Sekarang ini, kepala sekolah (Kepsek) tidak bisa diam. Karena semua kebutuhan sekolah sudah termuat pada Dapodik sekolah. JIka kekurangan akses internet atau sarana prasarana, bisa dikroscek lewat Dapodik, supaya dari pusat langsung melihat dan menentukan untuk mendapatkan Dana Alokasi Khusus (DAK). Tidak harus dinas yang menjawab semua kebutuhan sekolah. Misalnya di MBD, ada begitu banyak persoalan yang harus kita perhatikan. Bukan satu sekolah saja yang kita perhatikan. Jadi kita mendorong semua sekolah supaya bisa manfaatkan Dapodik sekolah dengan baik,” kata Lewier, Rabu (3/4).

Dirinya mengungkapkan, rata-rata semua sekolah hanya fokus pada pendataan jumlah siswa untuk kepentingan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), hingga melupakan kebutuhan sekolah lainnya, yang juga bisa terjawab lewat Dapodik sekolah.

“Sekolah hanya update Dapodik tentang jumlah siswa untuk mengejar dana BOS saja. Padahal sebenarnya akses data Dapodik itu luas. Bisa juga untuk sarana prasarana dan kebutuhan lainnya. Tinggal saja mereka lihat dan mereka masukan itu ke dalam Dapodik, tanpa harus dinas usulkan. Dari pusat juga sudah tahu, kalau sekolah ini membutuhkan bantuan. Kalau untuk kebutuhan lainnya yang tidak bisa terjawab, minimal Kepsek datang dan konsilidasi itu dengan dinas pendidikan atau bikin proposal ke bupati, agar bisa intruksikan nanti dinas untuk menjawab itu. Jadi sekolah tidak boleh diam, tiba-tiba melampiaskan itu ke media sosial. Saya kira itu tidak menjawab persoalan, tapi justru menambah persoalan,” pungkas Lewier. (LAM)

Comment