by

Sekolah Belum Pahami Teknis Merdeka Belajar

Ambon, BKA- Kepala SD Negeri 15 Ambon, Marcus Mailoa, mengatakan, belum memahami secara teknis dari program merdeka belajar yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud) RI.


Hal itu disampaikannya, karena sejak program ini diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim beberapa waktu lalu, belum ada petunjuk teknis (Juknis) bagi sekolah. Salah satunya, yakni, keputusan pengganti Ujian Nasional (UN) dengan asesmen di tahun 2021 mendatang.

“Kita sampai saat ini, belum mendapat penjelasan khusus tentang program merdeka belajar. Dalam hal ini, UN yang tidak berlaku lagi, karena digantikan dengan asesmen. Beberapa waktu lalu, memang dari kepala kurikulum mengirimkan semacam petunjuk untuk asesmen begitu,” ungkap Mailoa, Rabu (21/10).

“Untuk nanti selanjutnya ditindaklanjuti oleh sekolah. Namun petunjuk-petunjuk khusus yang harus kita laksanakan belum ada. Bahwa asesmen ini juga saya sendiri belum pahami betul, kira-kira apa-apa saja yang menjadi persiapan anak-anak ini dalam mengikuti ujian nasional atau asesmen di tahun mendatang,” sambungnya.

Dirinya mengaku, secara umum, mengetahui maksud dan tujuan dari pada asesmen tersebut, namun karena belum ada petunjuk dari Kemendikbud, yang menyebabkan, proses belajar mengajar saat ini masih tetap fokus pada Daring dan Luring. Dimana, proses pembelajaran disesuaikan dengan panduan kurikulum darurat.

“Yang pasti, anak-anak itu akan disiapkan portofolio. Karena asesmen ini lebih kepada kebebasan sekolah dalam mendidik dan menilai anak-anak didiknya. Tapi itu, kita belum fokus ke situ. Karena masih dalam kondisi pandemi Covid-19,” ucapnya.

“Kalau Tuhan berkenan, di tahun 2021 semua sudah masuk pada proses sekolah seperti biasanya. Agar hal-hal yang harus dibenahi terkhususnya kelas VI dalam jelang asesmen bisa kita persiapkan. Dan mungkin juga ada aturan-aturan baru yang akan nanti dikeluarkan oleh Mendikbud terkait dengan ujian Nasional digantikan dengan asesmen itu juga bisa diberikan kepada sekolah. Sampai saat ini, kita belum ada petunjuk itu. Mungkin masih dengan kondisi ini masih, sehingga baik Kemendikbud maupun dinas masih memfokuskan pikiran untuk bagaimana Covid-19 ini berakhir,” ungkapnya.

Karena itu, Ia berharap, agar secepatnya Kota Ambon kembali zona kuning atau hijau. Supaya semua proses belajar mengajar dapat kembali berjalan secara normal. Karena berbagai kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan, justru terkendala karena Covid-19 masih menyebar.

“Mudah-mudahan, dengan PSBB transisi 7 ini, Kota Ambon zona kuning. Sebab, kalau masih dengan kondisi ini, pasti semua kebijakan tidak bisa berjalan baik. Seperti program merdeka belajar yang menurut Mendikbud, tetap dilakukan. Khusus asesmen di tahun 2021,” tuturnya.

“Sampai saat ini, dari dinas belum memberikan petunjuk khusus. Bahwa UN yang akan digantikan dengan asesmen di tahun 2021. Mungkin dengan kita kembali ke zona kuning, kita akan dipanggil untuk diarahan terkait teknis pelaksanaan asesmen itu. Tapi sampai saat ini belum ada,” pungkasnya. (LAM)

Comment