by

Sekolah Minta Guru Divaksin Agar Bisa BTM

Ambon, BKA- Rencana untuk melakukan Swab Test kepada seluruh kepala sekolah (kepsek) yang ada dibawah naungan Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, untuk mendukung pemberlakuan Belajar tatap Muka (BTM) di sekolah, dianggap sebagai sesuatu yang mubazir oleh pihak sekolah.

Sebelumnya diberitakan, Kabid Fasilitas Kerja Satgas Covid-19 Kota Ambon, Benny Selanno, berencana bertemu Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, untuk membahas proses BTM di sekolah. Untuk itu, seluruh kepsek harus Swab, sehingga saat pelaksanaan BTM nanti, para siswa dan guru jauh dari ancaman Covid-19.

“Nanti seluruh kepala sekolah kita akan swab. Karena nanti mereka berhadapan dengan guru maupun murid. Kalau memang ada yang terpapar Covid-19, kan tinggal diobati. Semua ini untuk kebaikan bersama,” terang Selanno, beberapa waktu lalu.

Namun terhadap skenario itu, pihak sekolah malah memilih untuk dilakukan penyuntikan vaksin kepada seluruh guru.

“Karena kalau Kepsek diikut sertakan untuk Swab, kemudian ke guru-guru itu mubazir. Maksudnya adalah, pada saat Swab dan misalnya semua negatif, memang tidak tidak apa-apa. Tapi bagi saya, itu belum meyakinkan adanya BTM. Karena secara umum, kota ini masih dalam zona orange. Sehingga meskipun hasil Swab negatif, tapi bukan berarti bebas virus. Bisa saja besok sudah terinveksi. Untuk itu, baiknya kita divaksin saja,” pinta Kepala SD Negeri 15 Ambon, Marcus Mailoa, Senin (1/2).

Vaksin, menurut Mailoa, merupakan alternatif terakhir yang bisa memberikan ruang untuk kembali membuka sekolah ditengah pandemi Covid-19 ini.

Untuk itu, dia berharap, kedepan, tidak perlu ada lagi Swab. Melainkan langsung divaksin, agar dapat meyakinkan orangtua maupun pihak lain, guna mengijinkan anak-anak kembali masuk sekolah.

“Kita tahu, bahwa proses vaksin itu adalah alternatif terakhir yang bisa menentukan tatap muka atau tidak. Untuk itu, diharapkan tidak perlu lagi guru di Swab, tapi divaksin. Supaya BTM yang nantinya dilakukan, tidak memberikan dampak bagi anak-anak, guru maupun orangtua,” harapnya.

Tidak hanya itu, lanjut Mailoa, untuk terhindar dari penyebaran virus, protokol kesehatan (prokes), yakni, menjaga jarak, mencuci tangan, menjaga jarak, harus tetap membudaya dilingkungan sekolah.

“Saat BTM, tidak bisa abaikan prokes meskipun sudah vaksin. Tetap itu diperhatikan dan dibadayakan di dalam lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Sebab virus ini merajalela, jadi kita harus membuat begitu. Harus tetap mempertahankan prokes. Jangan sampai itu hilang setelah divaksin. Jadi kalau memang akan dilakukan BTM, baiknya guru divaksin saja. Karena kita tidak tahu, habis swab, bisa saja kita terkontaminasi lagi dengañ virus. Apalagi kan situasi dan kondisi di setiap tempat itu beda-beda. Membuat kita harus tetap berhati-hati,” tandas Mailoa.(LAM/IAN)

Comment