by

Selamatkan Kualitas Siswa Ambon, Huliselan Minta Pemkot Secepatnya Ambil Kebijakan BTM

Ambon, BKA- Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Prof. Dr Mus J. Huliselan, meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon segera menyelamatkan kualitas siswa Kota Ambon, dengan mengeluarkan kebijakan Belajar Tatap Muka (BTM).

Menurutnya, hanya dengan pola BTM, proses pembelajaran akan berjalan efektif. Berbeda dengan pola Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dilakukan secara Daring maupun Luring, yang dinilai tidak efektif.

Menurutnya, PJJ maupun Belajar Dari Rumah (BDR) yang dilakukan akibat pandemi Covid-19 hanya pola pendukung BTM. Bukan sebagai pola belajar utama bagi siswa.

Untuk itu, katanya, jika Pemkot Ambon terus mempertahankan PJJ, maka akan semakin membuat anak-anak kesulitan dalam belajar. Tentu hal itu akan berdampak pada peningkatan kualitas anak di masa mendatang.

“Harus ada kebijakan Pemkot untuk memikirkan bagaimana cara yang baik kedepannya. Mau dengan unsur pembelajarannya seperti apa, tapi menurut Saya, Pemkot harus ambil kebijakan belajar tatap muka menggunakan protokol kesehatan yang ketat. Sebab untuk belajar Daring ini, perguruan tinggi saja terhambat, apa lagi dengan sekolah yang mau dibilang masih membutuhkan banyak pendampingan belajar terhadap siswa. Jadi sangat diharapkan, Pemkot Ambon mengambil solusi yang tepat bagi anak-anak ini. Kita semua tahu, bahwa proses belajar online ini, sama sekali bukan suatu metode yang bisa menyaingi belajar tatap muka, tapi sebagai pendukung belajar tatap muka. Itu pun tidak secara 100 persen,” ucap Huliselan, Senin, (18/1)

Mantan Rektor Unpatti Ambon itu melanjutkan, sebagai pendidik, dia pun mengalami kesulitan dengan pola mengajar secara PJJ. Bahwa meskipun kuliah Daring didesain semenarik mungkin, tidak akan sama dengan proses kuliah tatap muka. Apalagi dengan tingkat sekolah, yang harus berhadapan dengan anak-anak yang masih terbilang masih kecil. Tentu perlu belajar tatap muka langsung dengan guru, agar dapat menerima pelajaran dengan baik.

“Pengalaman saya juga sebagai pengajar dalam proses belajar Daring, saya rasa tidak enak. Karena proses belajarnya terbatas. Sebab kuliah itu butuh banyak diskusi, dan tidak cukup waktu kalau hanya lewat kuliah online. Jadi selain Daring, harus cari waktu untuk tatap muka. Sama halnya dengan tingkat sekolah, pasti merasakan hal yang sama. Guru pasti sangat terbeban, karena materi yang disiapkan dengan baik, tidak dipahami oleh siswa, karena belajar tidak efektif. Apalagi materi pelajaran itu disampaikan bagi siswa kelas I. Tentu mereka tidak mungkin memahami materi yang diberikan. Satu-satunya cara, harus belajar tatap muka, supaya belajar efektif. Mau diatur teknis seperti apapun, diharapkan Pemkot harus ambil kebijakan belajar tatap muka untuk selamatkan kualitas anak-anak kita. Karena mau sampai kapan pun, PJJ tidak akan berhasil, karena anak-anak sudah jenuh belajar sendiri di rumah,” bebernya.

Terkait kejenuhan siswa dengan pola PJJ, diakui Kepala Dinas Pendidikan Kota Ambon, Fahmy Salatalohy. Bahkan bukan hanya siswa, guru juga mulai bosan.

Walau begitu, tetap saja proses pembelajaran belum bisa dilakukan secara tatap muka. Karena harus menunggu perintah dari Walikota Ambon, Richard Louhenapessy.

Untuk itu, tegasnya, bila kedapatan ada sekolah yang sengaja melakukan proses BTM tanpa ijin Walikota Ambon, pasti dinyatakan telah melanggar aturan yang dikeluarkan.

“Siapapun yang melakukan proses pembelajaran tatap muka tanpa ijin dari walikota, saya kira itu pelanggaran. Bahwa memang soal PJJ, kita maklumi tingkat kebosanan itu sangat tinggi, tapi tetap saja tidak bisa belajar tatap muka,” ujarnya.

Terkait upaya untuk mengatasi kebosonan siswa terhadap PJJ, terang Salatalohy, semua dikembalikan kepada pihak sekolah. Sebab Dinas Pendidikan sifatnya hanya mengontrol.

“Kewenangan dimasa Covid ini sebenarnya dialihkan ke kepala sekolah semuanya. Dinas itu hanya mengontrol. Jadi bagaimana Kepala sekolah menginovasi, supaya anak-anak ini tetap belajar online dan di kontrol langsung oleh sekolah,” terangnya.

Kalau mau katakan belajar lewat rumah belum optimal, tambah dia, kemungkinan karena ada keterbatasan-keterbatasan. Tetapi secara umum, memang proses belajar dari rumah sudah berlangsung lama.

“Tetap kami kontrol. Menajemen kepala sekolah harus melingkup itu. Dinas cuma mengontrol dan memberikan arahan-arahan. Misalnya, pendidikan olahraga kan tidak mungkin harus teorinya saja. Anak-anak juga harus di giring disuatu tempat untuk melakukan olahraga misalnya,” pungkasnya. (LAM/IAN)

Comment