by

Sementara Liverpool diselimuti awan gelap, secercah harapan mulai mengintip.

Apa yang terlintas di benak ketika pertama kali mendengar nama Steven Gerrard? Ya, Liverpool. Gerrard adalah Liverpool, Liverpool adalah Stevie G. Kapten, ikon, legenda dan salah satu figur paling berpengaruh di Anfield. Barangkali, Anda mungkin akan langsung mengingat Liverpool daripada Rangers ketika tersebut nama Gerrard.

Minggu akhir pekan lalu, Rangers mencapai puncak euforia. Bagaimana tidak, setelah satu dekade nirtrofi liga, raksasa Skotlandia ini berbuka puasa. Hebatnya, mereka menahbiskan diri sebagai kampiun dengan laju super-fantastis: meninggalkan rival terdekat, Celtic, dengan selisih 20 poin.

Sebagai informasi, Celtic adalah juara sembilan tahun berentet. Tetapi akhir minggu lalu, hegemoni mereka runtuh. Tentu saja, Gerrard adalah dalang di balik supremasi Rangers. Catat, Celtic menjuarai Liga Primer Skotlandia dengan rekor 28 kemenangan, tanpa tersentuh kekalahan, dalam 32 pertandingan sejauh ini. Fenomenal, bukan?

Prestasi Gerrard di atas bagai oase bagi Liverpool. Media-media Inggris mulai ramai mengasosiasikan Gerrard dengan kursi panas yang tengah diduduki Klopp. Suara-suara sumbang perihal nasib Klopp mulai terdengar di sudut-sudut Anfield.

Para pemangku kuasa di ring 1 Liverpool tentu membaca dinamika yang terjadi di lapangan. John W. Henry, sang owner The Reds, bukanlah Roman Abramovich, yang bisa dengan enteng mengambil keputusan depak pelatih.

Namun, Liverpool butuh sosok Klopp versi di masa awal kepemimpinan dia. Klopp yang inovatif, Klopp yang memompa denyut energi tim, Klopp yang berani menekan tim untuk memasuki masa depan baru. Hal ini tak lagi tampak dalam gaya manajerial Klopp sepanjang musim ini.

Sekarang, jangankan bersaing di pacuan juara, berebut posisi empat besar saja Liverpool mesti bertarung mati-matian. Masalahnya, grafik Liverpool selama dinahkodai Klopp tak pernah mengalami depresiasi. Selalu ada lonjakan di setiap musimnya. Tapi itu tinggallah cerita.

Sehebat-hebatnya Klopp, lambat laun kelemahan seseorang akan terekspos, dan borok itu kian tercium di musim ini. Mungkin sudah saatnya Klopp mudik, karena dia pun telah dinanti publik Der Panzer untuk merebut kursi Jerman 1 yang saat ini diduduki Joachim Low.

Cepat atau lambat, suksesi di tampuk coaching staff di Melwood akan terjadi. Gerrard jelas berada di daftar teratas opsi pengganti Klopp. Pemilihan Stevie G pun tidak akan menimbulkan nuansa dilematis.

Pasalnya, publik Anfield sudah mafhum luar-dalamnya Gerrard. Begitupun sosok yang mengawali karier manajerialnya di tim muda Liverpool itu, khatam dengan jeroan klub kesayangannya ini. Gerrard bisa langsung nyetel dengan Liverpool.
Artikel dilanjutkan di bawah ini

Kabar baiknya, sistem permainan Gerrard persis dengan gaya Klopp, yakni mengandalkan skema 4-3-3, yang menitikberatkan pergerakan dua winger agresif mengapit satu striker. Perihal taktik, dibutuhkan ulasan tersendiri nan panjang.

Satu hal yang pasti, kembalinya Gerrard ke Melwood adalah sebuah harapan baru bagi Liverpool. Kapan itu terjadi? Tak ada yang tahu. Namun, gerbang Anfield selalu terbuka lebar-lebar untuk sang legenda besar. (INT)

Comment