by

Senjata Revolver Diduga Milik Oknum TNI-AU

Ambon, BKA- Jumlah tersangka pada kasus penjualan senjata api dan amunisasi dari Ambon kepada Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua, kemungkinan akan bertambah.

Sebelumnya telah ditetapkan 7 tersangka dikasus itu. Terdiri dari dua oknum anggota Polri yang bertugas di Polresta Ambon dan Pulau-pulau Lease, empat warga sipil, serta satu oknum anggota TNI dari satuan Yonif 733 Masiriku.

Selain itu, ada sejumlah barang bukti yang telah diamankan. Diantaranya, satu senjata laras panjang (Rakitan), sekitar 600 butir peluru, satu pucuk senjata laras pendek jenis revolver, uang tunai Rp.62 ribu,tiga buah Handphone, satu tas samping merek Polo, satu buah ATM BRI dan beberapa alat bukti lain.

Dari sejumlah barang bukti itu, berdasarkan hasil penyelidikan awal, barang bukti senjata laras pendek jenis revolver yang disita dari tangan tersangka J di Polres Teluk Bintuni, Papua Barat, diketahui berasal dari Bripka MRA yang merupakan anggota Polri yang berdinas di Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease.

Diduga, Bripka MRA mendapat senjata tersebut dari salah satu oknum TNI AU, inisial RL. “Jadi oknum TNI AU inisaial RL ini juga terlibat, kasus ini terjadi karena dia kasi pinjam senjata itu kepada Bripka MRA. Itu pengakuan Bripka MRA sendiri saat diperiksa. Dari situ, kemudian Bripka MRA jual ke tersangka J, yang tertangkap di Bintuni itu,” ungkap salah satu sumber yang menolak namanya dikorankan, saat ditemui di Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, Rabu (24/2).

Kepala Penerangan Lanud Pattimura, Letda Sus Yogi Tri Santoso, yang dikonfirmasi terkait keterlibatan oknum TNI AU tersebut, belum mau berkomentar lebih jauh.

Menurutnya, sampai saat ini, pihaknya sedang melakukan pendalaman terkait masalah tersebut. “Sementara kita pengembangan dulu. Dan saat ini belum ada arahan dari komandan,” singkatnya.

Terkait keterlibatan oknum anggota Polri dan TNI di Maluku yang terlibat dalam penjualan senjata dan amunisi kepada KKB Papua, salah satu praktisi hukum Maluku, Fileo Pistos Noija, mengatakan, entah apa itu latar belakangnnya, yang perlu dievaluasi adalah unsur pimpinan dari kedua lembaga ini.

“Pada prinsipnya, pimpinan TNI dan Polri di Maluku harus dievaluasi. Mereka tidak mampu menggodok anak buahnya untuk mempunyai kecintaan terhadap NKRI. Malah mendukung kelompok kriminal bersenjara di Papua. Maka tidak ada cara lain, mereka harus dievaluasi,” jelas Noija, ketika dimintai pendapatnya di Pengadilan Tipikor Ambon, Rabu (24/2).

Dari pendekatan ilmu pidana, lanjut dia, hal ini terjadi karena kealpaan dari pimpinan. Mengapa, bagaimana bisa itu terjadi dan tidak diketahui oleh pimpinan, padahal sistem didalam kubu TNI dan Polri itu sudah sangat ketat.

“Atau paling tidak, ada kealpaan pimpinan dalam mengontrol anak buahnya. Saya tidak bilang ini ada kerja sama pimpinan dengan anak buah, tapi dalam penyelidikan kasus ini, unsur pimpinan juga harus dipanggil dan dimintai keterangan terkait hal itu,” jelasnya.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Roem Ohoirat, mengatakan, dua oknum anggota Polresta Ambon ditangkap dan ditahan oleh institusinya, lantaran diduga menjual senjata api (senpi) dan amunisi ke Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Provinsi Papua.

Dua anggota tersebut yakni Bripka RAP dan Brigadir SP. Bripka RAP ditangkap rekannya pada saat pengamanan Sidang ke-38 Sinode GPM di depan Gereja Maranatha Ambon pekan lalu.

Sedangkan Brigadir SP ditangkap di luar Ambon, karena yang bersangkutan Bhabinkamtibmas di salah satu negeri di kawasan Pulau Haruku.

Penangkapan dan penahanan terhadap dua oknum anggota Polresta Ambon itu dilakukan setelah koordinasi antara Polda Papua Barat dan Polda Maluku.

Polda Papua Barat melalui Polres Teluk Bintuni, intens berkoordinasi dengan Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease.

Dua oknum anggota Polresta Ambon itu ditangkap berdasarkan keterangan yang diperolah dari WT, warga Jalan Merdeka Kabupaten Teluk Bintuni yang keburu ditangkap anggota Polres Teluk Bintuni, pada 10 Februari 2021.

Awalnya, WT diamankan bersama satu revolver, satu senjata api laras panjang, 600 amnunisi kaliber 5,56 dan tujuh amnunisi kalibar 3,8 dan satu magazine. Petugas juga mengamankan uang tunai Rp 450.000. Satu dokumen surat keterangan bebas Covid-19 dari Kota Ambon, satu unit ponsel Nokia dan beberapa barang bawaan lainnya.

Setelah dilakukan introgasi terhadap WT, terungkap dua nama oknum anggota Polisi tersebut.

Usai mendapat kabar keterlibatan oknum polisi itu, anggota Polresta Ambon langsung bergerak mengamankan keduanya.

Selain dua oknum polisi itu, ada pun keterlibatan oknum TNI. Yakni, Praka MS dari Satuan Batalyon Infantri 733 Masariku, yang terjerat dalam kasus yang sama.

Praka MS diketahui terlibat dalam penjualan 600 butir peluru kepada J, yang merupakan tersangka penjualan senpi dan amunisi yang diamankan pihak Polres Bintuni Polda Papua Barat beberapa waktu lalu.(SAD).

Comment