by

Sepenggal Kisah Kurnia Sandy di Sampdoria Edisi 1996-1997, Dikelilingi Legenda

Serie A Italia era 1990-an adalah kiblatnya sepak bola Eropa. Di sanalah tempat berkumpulnya bintang-bintang top lapangan hijau, dan hebatnya terselip satu nama pemain yang berasal dari Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Kurnia Sandy.

Berdasarkan data resmi klub, Kurnia Sandy tercatat sebagai pemain Sampdoria edisi 1996-1997. Wajahnya terpampang jelas bersama pemain-pemain lain, termasuk pelatih Sven-Goran Eriksson, dalam foto skuat yang dilakukan sebelum Serie A Italia musim itu bergulir.

Kurnia Sandy dikabarkan berstatus kiper ketiga Sampdoria setelah Fabrizio Ferron dan Matteo Sereni. Dia menggunakan nomor punggung 26.

Dia ditaksir Sampdoria tak lama setelah merampungkan program mercusuar bertajuk PSSI Primavera bareng sejumlah talenta muda Tanah Air kala itu, seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, Aples Tecuari, dan Indriyanto Nugroho.

Beberapa waktu lalu, Kurnia Sandy sempat bercerita secara eksklusif kepada redaksi berita olahraga INDOSPORT tentang karier dan pengalamannya merumput di Italia bersama Sampdoria edisi 1996-1997.

Bagi Kurnia Sandy yang saat itu masih berusia 21 tahun, bergabung dengan salah satu klub elite Serie A Italia (Sampdoria kampiun edisi 1990-1991) rasanya seperti mimpi. Dia dikelilingi pemain-pemain hebat sekaliber Sinisa Mihajlovic, Juan Veron, Roberto Mancini, dan Vincenzo Montella.

Keberadaan bintang-bintang Sampdoria sempat membuat Kurnia Sandy minder. Apalagi, dia datang dari negara yang kompetisi sepak bolanya baru seumur jagung memasuki era profesional pasca-peleburan Perserikatan dan Galatama (1994-1995).

“Pasti minder lah. Siapa tak kenal Roberto Mancini? Saya akui awalnya memang ada perasaan segan untuk berbaur dengan mereka yang punya nama besar,” kenang Kurnia Sandy kepada INDOSPORT, Selasa (5/1/21).

“Namun, belakangan saya mencoba untuk nimbrung hingga akhirnya mampu berbaur dengan Mancini dkk. setelah ditegur oleh salah satu staf pelatih Sampdoria, Giulio Nuciari. Dia pelatih kiper waktu itu,” tuturnya.

Rupanya, karakter orang Italia atau Eropa pada umumnya adalah mudah akrab bila bertemu dengan kawan baru yang ‘bawel’ alias senang berbicara. Kurnia Sandy baru tahu setelah ditegur oleh Giulio Nuciari.

“Roberto Mancini dan pemain Sampdoria lain sangat ramah asalkan kita sendiri aktif mengajak mereka ngobrol. Mereka bahkan banyak bertanya tentang Indonesia kepada saya karena penasaran,” ujar kiper andalan timnas Indonesia di SEA Games 1997 tersebut.

“Mereka benar-benar menghargai saya sebagai rekan setim. Saya pun belajar Bahasa Italia sedikit-sedikit buat sekadar menyapa setiap berpapasan di kompleks latihan dan mereka selalu merespons. Sering makan bareng juga usai latihan,” cetusnya.

Selama semusim di Sampdoria, Kurnia Sandy mengaku cukup dekat dengan satu pemain yang berstatus kiper utama, yakni Fabrizio Ferron. Dia mendapatkan banyak pelajaran ketika berlatih bersama penjaga gawang jebolan AC Milan Primavera tersebut.

“Ferron banyak membantu saya dengan mengajari teknik-teknik seputar kiper. Kami cukup akrab karena sudah kenal sebelum saya direkrut Sampdoria. Saya kan sempat magang sebentar usai mengikuti program PSSI Primavera,” kata Kurnia Sandy.

Terkait pelatih Sven Goran Eriksson, Kurnia Sandy menyimpan kenangan tersendiri. Dia mengenal juru taktik kenamaan Swedia itu sebagai sosok yang rendah hati dan tidak membeda-bedakan pemain.

“Saya ingat ketika pertama kali bertemu di lapangan latihan, Eriksson menyambut saya dengan kata-kata “Complimenti” dan “Bravo”. Artinya “Selamat” dan “Bagus”. Dia juga bilang “Buon Lavoro” atau selamat bekerja,” ungkapnya.

Satu pelajaran utama yang dipetik Kurnia Sandy dari pengalaman merumput di Italia adalah kedisiplinan. Dia menyaksikan betul betapa seriusnya pemain-pemain Sampdoria dalam sesi latihan menjelang pertandingan Serie A Italia.

“Saya ingat intensitas latihan Sampdoria begitu tinggi sampai-sampai menyerupai pertandingan kompetitif, terutama Roberto Mancini. Dia akan naik pitam kalau melihat rekan setimnya berlatih asal-asalan. Bisa-bisa dimarahi sama dia,” imbuh Kurnia Sandy.

“Di sinilah perbedaan besar antara sepak bola Eropa dengan Indonesia. Kita harus membiasakan diri untuk selalu serius, bahkan dalam latihan sekali pun. Pelajaran ini sangat penting karena bisa memajukan kita serta membuahkan prestasi di masa depan,” tandasnya.

Sekadar mengingatkan, Kurnia Sandy berstatus pemain Sampdoria selama semusim. Dia sempat disiapkan untuk masuk line-up pertandingan pekan ke-20 Serie A Italia 1996-1997 kontra AS Roma (16 Februari 1996), tapi akhirnya batal karena urusan dokumen International Transfer Certificate (ITC) yang belum beres.

Persoalan inilah yang merecoki sebagian besar waktu Kurnia Sandy selama berada di Italia. Dia merasa kebingungan karena kerap terbentur pengurusan ITC akibat buruknya komunikasi antara PSSI dengan federasi sepak bola Italia (FIGC).

Kini, Kurnia Sandy telah beralih profesi menjadi pelatih kiper sejak memutuskan gantung sepatu pada 2012. Dia sempat bertugas di timnas Indonesia (2018) dan Madura United (2019) sebelum akhirnya berlabuh di Safin Pati Football Academy (SPFA) sejak tahun lalu. (INT)

Comment